Kemenkes: Di Indonesia Kasus DBD Tembus 76.132, Sebanyak 540 Orang Meninggal Dunia

Ilustrasi pasien dengue shock syndrome(Shutterstock)

Lintaskepri.com, Tanjungpinang – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI membagikan laporan data kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga pekan ke-16 di tahun 2024.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi menyatakan bahwa jumlah kasus DBD tembus 76.132 kasus. “Update data DBD minggu 16 Tahun 2024. Jumlah kasus DBD 76.132 kasus.

Jumlah Kematian DBD 540 kematian,” katanya dalam keterangan resmi, Minggu (28/4/2024).

Dia menjelaskan terdapat 5 kabupaten atau kota dengan kasus DBD tertinggi selama 2024, yaitu dipimpin oleh Kabupaten Tangerang dengan 2540 kasus.

“5 kabupaten atau kota kasus tertinggi tahun 2024, Kabupaten Tangerang 2540 kasus, Kota Bandung 1741 kasus, Kota Bogor 1547 kasus, Kabupaten Bandung Barat 1422 kasus, Kabupaten Lebak 1326 kasus,” ujarnya.

Selain itu, dia menjelaskan terdapat 5 kabupaten atau kota dengan jumlah kematian tertinggi akibat DBD, dengan memimpin Kota Bandung dengan 25 kematian.

“5 kabupaten atau kota kematian DBD tertinggi tahun 2024, Kabupaten Bandung 25 kematian, Kabupaten Jepara 21 kematian, Kabupaten Subang 18 kematian, Kabupaten Kendal 16 kematian, Kota Bekasi 15 kematian,” tambahnya.

Baca juga :

Dinkes Tanjungpinang Himbau Masyarakat Waspada DBD di Musim Pancaroba

Adapun dia membandingkan dengan kasus DBD yang terjadi di tahun lalu, dengan pekan yang sama yakni pekan ke-16. Ternyata, lebih banyak kasus DBD di tahun 2024 ini.

“Pada periode yang sama di minggu 16 tahun 2023, jumlah kasus DBD sebanyak 25.050 kasus dengan kematian sebanyak 180 kematian,” ucapnya.

Sementara itu, sebelumnya Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Imran Pambudi mengatakan perubahan iklim 2024 memicu kasus DBD kembali meningkat.

“Perubahan iklim tidak hanya membebani pelayanan kesehatan, karena membuat kasus semakin naik, tetapi kami juga menimbang bahwa perubahan iklim akan membebani sistem kesehatan,” ujarnya.

Menurutnya, diagnosis terhadap DBD perlu ditingkatkan, agar dapat mengetahui penyakit tersebut dapat menular dari hewan dan lingkungan.(*\red)

Editor : Red