Lintaskepri, Bintan – Di tengah munculnya penolakan terhadap aktivitas sedimentasi laut di Pulau Numbing, fakta di lapangan menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang signifikan.
Mayoritas masyarakat dan nelayan Desa Numbing justru menyatakan dukungan terhadap rencana proyek sedimentasi laut yang akan dilaksanakan di perairan tersebut.
Dukungan ini muncul dari warga yang selama ini hidup dan menggantungkan penghasilan langsung dari wilayah pesisir Numbing.
Salah seorang nelayan setempat, Epy, menegaskan bahwa penolakan yang beredar tidak mencerminkan suara mayoritas warga.
“Secara menyeluruh nelayan dan warga yang tinggal di Numbing setuju. Hanya sekitar 10 sampai 15 kepala keluarga saja yang masih keberatan,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (16/4/2026).
Pernyataan ini sekaligus membantah anggapan bahwa nelayan Numbing secara umum menolak aktivitas sedimentasi.
Justru, sebagian besar masyarakat melihat adanya potensi dampak positif, terutama dari sisi ekonomi dan peluang yang dapat berkembang dari aktivitas tersebut.
Di sisi lain, aktivitas sedimentasi laut memang menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan perubahan kondisi perairan, seperti peningkatan kekeruhan akibat pergerakan material dasar laut.
Namun masyarakat lokal menilai kondisi tersebut perlu dilihat secara objektif dan berdasarkan realitas di lapangan, bukan hanya dari asumsi atau narasi sepihak.
Lebih jauh, warga juga mengingatkan agar tidak ada pihak-pihak tertentu yang mengatasnamakan masyarakat dan nelayan Numbing tanpa komunikasi langsung.
Mereka menegaskan bahwa masyarakat Numbing memiliki sikap dan suara sendiri, serta berhak menyampaikan pandangan mereka tanpa diwakili secara sepihak oleh kelompok tertentu.
Sebagai bentuk keseriusan dalam menyampaikan aspirasi, perwakilan nelayan Desa Numbing juga akan menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Provinsi Kepulauan Riau pada Jumat (17/4/2026).
“Insyaallah saya siap hadir bersama perwakilan nelayan desa Numbing di RDP tersebut. Ada sekitar 5 sampai 6 orang,” kata Epy.
Kehadiran langsung perwakilan nelayan ini menjadi bukti bahwa masyarakat terdampak ingin berbicara dengan suara mereka sendiri, sekaligus meluruskan berbagai narasi yang berkembang di luar.
Dengan demikian, polemik sedimentasi laut di Pulau Numbing tidak dapat disederhanakan sebagai penolakan sepihak.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat terdampak justru mendukung, sembari tetap berharap adanya pengelolaan yang bertanggung jawab dan transparan.(*)






