Lintaskepri.com, Tanjungpinang – Kondisi cuaca kering yang melanda wilayah Tanjungpinang dan sekitarnya dalam beberapa waktu terakhir memicu meningkatnya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus memperparah krisis air bersih di sejumlah wilayah, Jumat (27/3/2026).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa hingga akhir Maret 2026, cuaca di Tanjungpinang didominasi kondisi cerah hingga berawan dengan potensi hujan yang sangat kecil. Minimnya curah hujan ini menyebabkan tanah menjadi kering dan mudah terbakar.
Sejumlah titik api bahkan sempat terdeteksi di wilayah Tanjungpinang, seperti di kawasan Bukit Bestari dan Tanjungpinang Timur, meskipun jumlahnya relatif kecil dibandingkan daerah sekitar. Namun, kondisi angin dan suhu panas membuat potensi penyebaran api menjadi lebih cepat dan sulit dikendalikan.
Dalam beberapa hari terakhir, kebakaran lahan juga terjadi di wilayah Tanjungpinang, salah satunya di kawasan Batu 8 atas yang sempat menimbulkan kepanikan warga akibat asap tebal yang mengganggu aktivitas dan jarak pandang pengguna jalan.
Sementara itu, kondisi lebih parah terjadi di wilayah Kabupaten Bintan yang berbatasan langsung dengan Tanjungpinang. Pemerintah setempat bahkan telah menetapkan status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan, menyusul lonjakan signifikan titik api sejak awal tahun.
Data mencatat, sepanjang Januari hingga Maret 2026 terdapat 317 titik api dengan total luas lahan terbakar mencapai sekitar 251 hektare. Kondisi ini diperparah oleh karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar serta dampak perubahan iklim yang menyebabkan musim kering lebih panjang.
Tidak hanya kebakaran, kekeringan juga mulai dirasakan masyarakat. Debit air di sejumlah waduk mengalami penurunan drastis akibat minimnya hujan, sehingga berdampak pada ketersediaan air bersih bagi warga.
Pemerintah dan instansi terkait kini terus melakukan upaya penanganan, mulai dari pemadaman kebakaran, patroli titik panas, hingga distribusi air bersih kepada masyarakat terdampak. Selain itu, warga diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta lebih bijak dalam penggunaan air.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di tengah kondisi cuaca panas dan angin kencang yang masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Dengan kondisi ini, sinergi antara pemerintah dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam menekan risiko bencana yang lebih luas di wilayah Tanjungpinang dan sekitarnya.






