Akses Vital ke Batubi dan Kelarik Memprihatinkan, Ini Harapan Masyarakat

Tampak beberapa warga tengah membenahi jembatan yang roboh.

Tampak beberapa warga tengah membenahi jembatan yang roboh.

Natuna, LintasKepri.com – Jembatan kayu yang menjadi akses utama penyeberangan, bagi masyarakat yang hendak dan dari Kecamatan Bunguran Batubi dan Kecamatan Bunguran Utara (Kelarik), roboh.

Akibatnya, puluhan warga yang hendak menuju Kota Ranai dan Bunguran Tengah maupun sebaliknya, yang ingin melintasi jembatan tersebut, terpaksa terhenti.

“Orang yang mau ke Ranai atau yang mau ke Batubi, jadi nggak bisa nyebrang, akibatnya macet total,” ujar Yudianto, warga asal Desa Sedarat Baru, Kecamatan Bunguran Batubi.

Peristiwa ini terjadi pada Minggu (21/01/2018) petang, sekitar pukul 16:00 Wib.

Pengguna jalan memikul kendaraannya melintasi sungai.

Pengguna jalan memikul kendaraannya melintasi sungai.

Puluhan warga yang hendak melintasi jembatan yang berada diantara Kecamatan Bunguran Tengah dan Bunguran Batubi ini, terpaksa harus membenahi terlebih dahulu jembatan yang roboh tersebut, agar dapat melintas.

“Sekitar 2 jam masyarakat bahu-membahu mengganti kayu yang telah patah tersebut, dengan kayu bekas. Tapi sifatnya hanya sementara, yang penting bisa lewat dulu,” ungkapnya.

Bahkan kata Yudi, beberapa pengendara sepeda motor, terpaksa harus memikul kendaraannya melintasi sungai yang cukup dalam, supaya dapat menyeberang.

“Airnya sepinggang orang dewasa, kalau tidak dipikul, motor bisa mati mesin,” kata Yudi, yang turut membantu warga membenahi jembatan kayu yang telah lapuk tersebut.

Antrean kendaraan saat menunggu jembatan diperbaiki sementara.

Antrean kendaraan saat menunggu jembatan diperbaiki sementara.

Belum diketahui secara pasti penyebab robohnya jembatan. Namun, beberapa warga menduga ada truck bermuatan yang dengan terpaksa melewati jembatan, yang kondisinya memang sudah tua. Akibatnya badan jembatan yang terbuat dari kayu tersebut patah, lantaran sudah tidak kuat lagi menyangga beban berat.

“Biasanya truck lewat bawah (sungai, red), tak pernah lewat atas (jembatan, red), karena jembatan itu memang sudah lapuk kayunya,” bebernya.

Yudi bersama masyarakat Batubi dan Kelarik berharap, Pemerintah melalui Dinas terkait cepat tanggap dengan memperhatikan dan membangun jembatan tersebut. Pasalnya, jembatan ini merupakan akses vital bagi warga yang hendak dan dari daerah mereka.

“Tidak ada jalan lain selain harus melewati jembatan buruk ini. Ya kalau bisa Pemerintah memperhatikan lah nasib kami ini, dengan memperbaiki jembatan ini secepatnya,” harap Yudi.

Meski roboh, namun kejadian putusnya jembatan ini tidak sampai menelan korban. Hanya saja, waktu tempuh para pengendara jadi molor beberapa jam, akibat harus terlebih dahulu membetulkan pelantar jembatan yang patah.

Laporan : Erwin Prasetio

Baca juga :

Top