Batam  

Rupiah Jadi Mata Uang ASEAN dengan Tekanan Terbesar terhadap Dolar AS

Belladina
Rupiah Jadi Mata Uang ASEAN dengan Tekanan Terbesar terhadap Dolar AS. Dok : Istimewa
Rupiah Jadi Mata Uang ASEAN dengan Tekanan Terbesar terhadap Dolar AS. Dok : Istimewa

Lintaskepri.com, Batam – Nilai tukar rupiah menjadi salah satu mata uang paling tertekan di kawasan Asia Tenggara di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketegangan geopolitik global sepanjang 2026.

Berdasarkan laporan Reuters, rupiah bahkan sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah di angka Rp17.535 per dolar AS. Pelemahan tersebut dipicu kombinasi berbagai faktor, mulai dari lonjakan harga minyak dunia, arus modal asing yang keluar dari pasar domestik, hingga meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Tekanan terhadap mata uang negara-negara ASEAN terjadi setelah harga minyak global melonjak tajam akibat memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya Iran. Negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia menjadi yang paling rentan terdampak karena tingginya kebutuhan impor energi yang membebani neraca perdagangan dan cadangan devisa.

Selain faktor energi, sentimen global juga memperparah tekanan terhadap rupiah. Dalam situasi pasar yang cenderung “risk-off”, investor global memilih memindahkan dana mereka ke aset yang dianggap aman atau safe haven seperti dolar AS. Kondisi ini membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan besar di pasar keuangan.

Media ekonomi Bloomberg Technoz bahkan menyebut rupiah sebagai salah satu mata uang dengan performa terburuk di Asia sepanjang tahun ini. Tekanan terhadap rupiah dinilai lebih dalam dibanding beberapa mata uang ASEAN lain seperti baht Thailand maupun peso Filipina yang juga ikut melemah.

Di sisi lain, sejumlah mata uang regional justru relatif lebih stabil. Dolar Singapura misalnya, masih mampu bertahan karena dianggap sebagai safe haven regional, sementara ringgit Malaysia mendapat dukungan dari posisi Malaysia sebagai negara eksportir energi.

Pengamat menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga berkaitan dengan sentimen pasar terhadap kondisi fiskal nasional dan arah kebijakan ekonomi pemerintah. Ketidakpastian global membuat investor semakin selektif terhadap negara berkembang yang dinilai memiliki risiko tinggi.

Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan fundamental ekonomi domestik masih dalam kondisi kuat. Otoritas moneter memastikan volatilitas nilai tukar saat ini lebih banyak dipengaruhi gejolak eksternal dan dinamika pasar global dibanding faktor fundamental ekonomi Indonesia sendiri.

Simak Berita Terbaru Langsung di Ponselmu! Bergabunglah dengan Channel WhatsApp Lintaskepri.com disini