Peringati Maulid Nabi, Syaifullah : Rasulullah Diutus untuk Meluruskan Hati Manusia

Natuna, LintasKepri.com – Manusia tidak punya kemampuan, kekuatan dan kekuasaan, semuanya milik Allah. Kesadaran milik Allah inilah yang harus kita sadari, sehingga menghapuskan sisi pengakuan rasa makhluk dalam diri kita. Inilah yang setiap hari, setiap malam kita lakukan, belajar mengolah rasa dan berserah diri hanya kepada Allah SWT.

Demikian disampaikan oleh Anggota DPRD Natuna, Syaifullah, yang juga merupakan orang tua yang disebut Pengayom Daerah (Yomda) Lembaga Spiritual Masyarakat Indonesia (Rasi) Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, mengawali sambutannya pada malam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, di Pos Induk Rasi Natuna, pada Sabtu (23/10/2021) malam.

Kata Syaifullah, berserah diri dengan sebenar-benarnya kepada yang maha kuasa, agar senantiasa mendapatkan bimbingan tuhan, menjadikan kita pribadi-pribadi yang dituntun oleh Allah dan Rasulullah merupakan salah satu tujuan dari pada memperingati lahirnya Nabi Besar Muhammad SAW.

Menurutnya, kontrak hidup kita selaku manusia sudah menjadi ketetapan Allah. Oleh karena itu, dengan penuh kesadaran bersegeralah berserah diri, mempasrahkan diri kita hanya kepada Allah SWT.

“Kalau bukan karena iman, tentu kita tidak akan mampu berkumpul disini. Kalau bukan karena adanya bimbingan rasa oleh Allah SWT, ngapain kita setiap hari berjaga malam, meninggalkan anak dan istri di rumah. Artinya kita bukan orang-orang bodoh yang dengan mudah menerima sesuatu pengakuan begitu saja. Semua ini kita lakukan karena terbukti adanya perubahan hidup yang lebih baik, terasa dan teraba di dalam diri masing-masing,” ujar Syaifullah.

Ia menghimbau kepada setiap diri, khususnya umat Rasi Natuna, senantiasa merenung, menghayati, dan mempelajari satu persatu penyakit hidup. Karena salah satu tujuan Rasulullah SAW diutuskan oleh Allah SWT di muka bumi ini, adalah untuk meluruskan hati manusia, agar berkiblat hanya kepada Allah SWT.

“Kau gunakan akal dan fikiranmu, kemudian kau lupakan dirimu kepada Allah, itu lah hakikat kebodohan,” tegas Syaifullah.

Lebih jauh, ia menjelaskan, momentum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW inilah manusia harus bisa menyadari bentuk dari kasih dan sayang Allah. Karena Allah SWT mengutuskan Rasulullah SAW agar manusia sadar dan kembali kepadaNya.

“Rasul adalah utusan Allah pembawa kebenaran, meluruskan hati manusia agar terkikis dari sifat-sifat yang dapat menghalangi kebenaran Allah,” jelas Syaifullah.

Nurani dan akal sehat seorang Muhammad kata Syaifullah, sebelum menjadi Rasul saat itu, (zaman jahiliyah-red) dan sebelum menjadi nabi, sekalipun hatinya sudah disucikan oleh Allah SWT, namun akal manusianya belum mampu, ia baru memperoleh keimanan setelah melalui perjalanan spiritual yang cukup panjang.

“Kehidupan Nabi Muhammad pada masa itu bukan enak. Beliau jatuh bangun menegakan kebenaran Allah. Dari kecil beliau sudah ditinggalkan oleh orangtuanya, di asuh dan dipelihara oleh pamannya. Beliau cukup menderita dalam memperjuangkan kebenaran Allah. Sempat di hina, di fitnah, bahkan dilempari dengan benda-benda yang kotor. Namun hasil dari perjuangannya itu, hari ini sama-sama kita rasakan,” terangnya.

Lebih jauh Syaifullah menegaskan, ada beberapa sebab yang pada masa itu bertentangan dengan akal nurani Nabi Muhammad SAW. Pertama mereka orang-orang yang hidup di zamanya (Jahiliyah-red) membuat berhala dengan tanah, patung berhala yang mereka ciptakan di sembah dan dijadikan tempat untuk meminta pertolongan.

Kemudian lanjut Syaifullah, yang bertentangan dengan hati nurani Nabi Muhammad pada saat itu, ketika lahir anak-anak perempuan, di kubur hidup-hidup, dan menjadikan orang-orang budak. Apapun yang ada pada budak, bahkan darahnya pun dihalalkan oleh majikan, inilah yang membuat Nabi Muhammad bertentangan.

Simak Berita Terbaru Langsung di Ponselmu! Bergabunglah dengan Channel WhatsApp Lintaskepri.com disini