Peduli Wisata Sejarah, Karang Taruna Sepempang Goro Bersihkan Batu Rusia

Karang Taruna Desa Sepempang saat melaksanakan gotong royong membersihkan objek wisata sejarah Batu Rusia.

Karang Taruna Desa Sepempang saat melaksanakan gotong royong membersihkan objek wisata sejarah Batu Rusia.

Natuna, LintasKepri.com – Ketua beserta para pengurus Karang Taruna Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, melaksanakan kegiatan gotong royong (Goro) untuk membersihkan objek wisata sejarah Batu Rusia, yang terletak di Jalan Teluk Baruk, Sepempang.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menjaga dan melestarikan salah satu peninggalan sejarah penting, yang ada di Kabupaten Natuna.

“Kita melihat Batu Rusia ini memiliki nilai sejarah yang sangat penting, untuk itu perlu dijaga dan dilestarikan keberadaannya,” kata Ketua Karang Taruna, Baharudin, melalui anggotanya Arif Naen. Rabu (03/01/2018) siang.

Pria yang akrab disapa Naen Noan itu menjelaskan, bahwa kegiatan pembersihan area wisata sejarah Batu Rusia ini, merupakan kali ketiga yang dilaksanakan oleh Karang Taruna Sepempang.

“Selain Karang Taruna, gotong royong ini juga melibatkan masyarakat Sepempang. Alhamdulilah kegiatannya berjalan dengan lancar,” katanya.

Selain melakukan pembersihan, Karang Taruna Sepempang sebelumnya juga telah membuat dan memasang papan plang yang bertuliskan Batu Rusia, disekitar objek wisata yang letaknya tidak jauh dengan Kota Ranai tersebut.

Batu Rusia adalah salah satu peninggalan bersejarah yang dimiliki Kabupaten Natuna. Situs ini terletak persis di pinggiran jalan menuju Desa Sepempang, kurang lebih tiga kilo meter dari Kota Ranai. Atau 15 menit jika ditempuh dengan sepeda motor atau mobil. Tepatnya berada di Dusun Beringin Jaya, Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur.

Keberadaan Batu Rusia di sana mencatat bukti sejarah tentang orang-orang Rusia yang pernah ada di wilayah itu beberapa tahun silam. Kabarnya, sekoci orang-orang Rusia terdampar di sana karena kapalnya menabrak karang di laut Natuna setelah dihajar ombak besar. Untuk menandai keberadaannya, mereka mencorat-coret, membuat tulisan semacam grafiti di atas batu tersebut.

Persisnya, menurut cerita warga sekitar, Batu Rusia ini bermula pada saat terjadi peristiwa pecahnya kapal milik Rusia yang kandas di depan Pulau Senoa. Kapal Rusia itu memuat 40 orang penumpang termasuk tiga perempuan.

Setelah terombang-ambing dan berjuang ke luar dari kapal yang tenggelam itu, mereka akhirnya selamat dan berhasil mendarat di Desa Sepempang, yang tidak jauh dari Pulau Senoa. Kemudian, mereka berduyun-duyun menuju ke Ranai untuk meminta bantuan tokoh masyarakat setempat bernama Tok Kaya A. Rasid. Karena kebetulan saat itu Ranai tengah panen padi, maka segala kebutuhan makanan orang-orang Rusia itu dijamin oleh Tok Kaya A. Rasid.

Saat berada di Ranai dan Desa Sepempang itulah, orang-orang Rusia itu sebelum kembali ke tanah airnya, menyempatkan diri menulis kata-kata di Batu Rusia menggunakan belati mereka. Beberapa kata yang terukir oleh mereka di batu itu di antaranya adalah kalimat berbahasa Indonesia “Selamat Tinggal” serta gambar dan lambang “USSR” dalam ukuran yang cukup besar. Terdapat juga tulisan berbahasa Rusia “bre-che” yang bermakna cukur janggut, “zambiar” yang berarti ular serta “kuku-rasa” yang artinya gandum. Tulisan-tulisan itu hingga kini masih bisa Anda temukan di sana, meski sebagian sudah terlihat kabur.

Laporan : Erwin Prasetio

Baca juga :

Top