Lintaskepri.com, Tanjungpinang – Balap liar merupakan aksi yang sangat beresiko mengancam nyawa, apalagi sebagian besar pelakunya adalah para anak muda yang masih memiliki masa depan yang panjang.
Fenomena ini tidak hanya disebabkan oleh kurangnya kesadaran akan keselamatan berkendara, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan psikologis yang dialami oleh para remaja yang bertransisi menuju kedewasaan.
Aksi balap liar di kota Tanjungpinang sendiri seringkali dilakukan di beberapa titik terutama pada akhir pekan, seperti Jalan Basuki Rahmat, Jalan Dompak, dan Km 16.
Namun yang menjadi lokasi utama dan paling sering dijadikan tempat untuk balap liar adalah alan Basuki Rahmat. Aksi ini biasanya dimulai dari pukul 01.00 dini hari.
Aksi balap liar ini sebenarnya penyaluran sebuah energi yang bergejolak dari para remaja. Pemicu awal mula balap liar ini terjadi disebabkan oleh gengsi dari masing-masing pemuda yang merasa memiliki kendaraan yang lebih kencang dari yang lain sehingga aksi balap liar ini menjadi ajang pembuktian dari masing-masing kawula muda tersebut dengan membuktikan mana kendaraan yang lebih cepat diantara mereka.
Mereka sengaja bergabung dengan remaja yang memiliki energi dan hasrat yang sama untuk melakukan aksi balap liar tersebut.
Persoalan ini masih ditambah dengan aksi kolektif rekan sesama komunitas untuk kemudian saling mempengaruhi dan membentuk sebuah wadah penyaluran yakni berupa balapan liar.
Respon masyarakat tentang balap liar beragam, Ada yang mendukung karena melihatnya sebagai hiburan, ada pula yang menentang karena membahayakan keselamatan dan merugikan pengguna jalan lainnya.
Adapun beberapa dampak negative yang timbul dari adanya balap liar seperti memicu terjadinya taruhan atau judi, menyumbang angka kecelakaan, mengganggu ketentraman Masyarakat, menghambat kelancaran jalan raya, serta resiko terberatnya dapat menghilangkan nyawa dari para peserta balap liar itu sendiri.
Selain dampak negatif adapula dampak positif yang terjadi pada balap liar diantaranya yaitu pembalap akan mendapatkan imbalan, terciptanya rasa solidaritas antar pembalap serta menjadi sarana hiburan untuk di pertontonkan.
Pemerintah sudah melakukan penindakan dan Upaya dengan melakukan patroli untuk mencegah aktivitas balap liar ini, namun sepertinya tidak menimbulkan efek jera bagi para anak muda.
Sementara itu, kanit laka Polresta Tanjungpinang, AKP Syaiful Amri menegaskan, bahwa pihaknya sudah sering patroli disekitar TKP (Jalan Basuki Rahmat) pada saat tim patrol datang,
“mereka yang beraksi saat balap liar ini, termasuk yang menonton, langsung kabur berhamburan, Jadinya kejar-kejaran, sebenarnya dikejar pun ini bisa membahayakan keselamatan mereka juga,” ucapnya. (hariankepri.com)
Keinginan besar dalam jiwa anak muda ini harusnya di Kelola dengan baik dan khususnya oleh keluarga serta orang tua.
Orang tua memiliki peran penting serta mengamati dan memberikan saluran bakat minat yang tepat bagi anak remajanya.
Dengan demikian keinginan yang terhambat dalam diri mereka bisa tersalurkan dalam kegiatan yang lebih positif.
Memang mengurangi masalah dan persoalan balapan liar yang meresahkan ini perlu upaya dan sinergi bersama.
Baik dari kalangan pemerintah sebagai penindak, pengawas dan Pembina, juga keluarga dan orang tua sebagai pembimbing sejati anak-anaknya.
Solusi yang dapat di lakukan untuk mengatasi terjadinya balap liar yaitu, pertama pihak kepolisian melakukan tindakan perventif, tindakan preventif bisa dengan mempersiapkan aparat untuk bertugas pada tempat atau lokasi yang selalu di jadikan area balap.
Selain itu, bisa juga dilakukan pemasangan barikade pada waktu-waktu yang rawan terjadi balap liar untuk mempersulit gerakan pelaku.
Kedua solusi lain untuk menekan balap liar di ruas jalan raya adalah dengan menyediakan sirkuit permanen guna menyalurkan bakat dan hobi anak muda pecinta balap.
Selain itu juga banyak digelarnya perlombaan lain yang kiranya mampu memberikan wadah generasi muda menyalurkan kreasi dan bakatnya.
Segenap kegemaran bakat dan minat kalangan muda tetap masih berkesempatan menyala dan berkobar di jalur dan wahana yang tepat tanpa harus mengorbankan diri demi secuil pengakuan.(*)
Para penulis adalah Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Haji (Umrah) Tanjungpinang.
- Muhammad Firgi Alvino
- Tiara Anggraini
- Farhan Alwi
- Rama Yanti P. Marbun