Lintaskepri.com, Jambi – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi masih menjadi perhatian serius. Hingga Sabtu, 10 Oktober 2026, kabut asap akibat kebakaran menyelimuti Kota Jambi dan sejumlah wilayah sekitarnya. Kondisi ini mengganggu aktivitas masyarakat serta meningkatkan kekhawatiran terhadap dampak kesehatan.
Berdasarkan analisis spasial Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi menggunakan citra satelit Sentinel-2 periode 6–8 Oktober 2026, luas area yang terbakar di Provinsi Jambi dilaporkan mencapai 42.455 hektare. Angka tersebut mencakup lahan mineral dan gambut.
Titik Api Tersebar di Sejumlah Wilayah
Sejumlah wilayah yang menjadi perhatian dalam penanganan karhutla antara lain Kabupaten Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, dan Kabupaten Tebo.
Gubernur Jambi Al Haris memantau perkembangan titik api serta pergerakan angin melalui sistem pemantauan di Posko Udara Satuan Tugas Karhutla Provinsi Jambi pada Jumat (9/10/2026).
Pergerakan angin menjadi salah satu faktor yang menyebabkan asap menyelimuti Kota Jambi. Sementara itu, kabut asap yang tebal juga menyulitkan operasi pemadaman melalui udara, termasuk penggunaan helikopter untuk melakukan water bombing.
Personel Brimob Lakukan Pemadaman di Muaro Jambi
Upaya pemadaman terus dilakukan oleh petugas gabungan. Personel Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Jambi sebelumnya dikerahkan untuk memadamkan kebakaran lahan di Desa Sungai Bertam, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi, pada Rabu malam (7/10/2026).
Sebanyak 15 personel bersama satu unit kendaraan water cannon diterjunkan untuk melakukan pemadaman dan pendinginan guna mencegah munculnya kembali titik api.
Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mengendalikan kebakaran agar tidak meluas ke kawasan lainnya.
Kasus ISPA di Kota Jambi Capai 11.539 Kasus
Dampak kabut asap juga menjadi perhatian dari sisi kesehatan masyarakat.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Jambi yang diberitakan detikSumbagsel pada Sabtu (10/10/2026), tercatat 11.539 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama periode 24 Agustus hingga 9 Oktober 2026.
Selain ISPA, tercatat 1.362 kasus diare dan 517 kasus konjungtivitis atau peradangan pada selaput mata dalam periode yang sama.
Meski kasus-kasus tersebut tercatat selama periode kabut asap, data tersebut tidak membuktikan bahwa seluruh kasus secara langsung disebabkan oleh karhutla. Namun, kondisi kualitas udara yang memburuk tetap perlu diwaspadai.
Pemerintah Perkuat Penanganan Karhutla
Pemerintah Provinsi Jambi bersama petugas gabungan terus berupaya menangani kebakaran serta mengurangi dampak kabut asap. Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Warga juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap pekat, terutama anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan.
Penanganan karhutla membutuhkan kerja sama seluruh pihak agar kebakaran tidak semakin meluas dan dampak kabut asap terhadap kesehatan maupun aktivitas masyarakat dapat ditekan.






