Jika BI Rate Naik, Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat? Ini Sejumlah Langkah Antisipasi

Belladina
Jika BI Rate Naik, Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat? Ini Sejumlah Langkah Antisipasi. Dok : Istimewa
Jika BI Rate Naik, Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat? Ini Sejumlah Langkah Antisipasi. Dok : Istimewa

Lintaskepri.com, Jakarta – Proyeksi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5 persen pada semester I 2026 mulai menjadi perhatian masyarakat dan pelaku usaha. Kenaikan ini diperkirakan menjadi langkah Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah yang terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat.

Dikutip dari InvestorTrust +1 Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan BI naik sebesar 25 basis poin dari level 4,75 persen saat ini. Prediksi tersebut muncul setelah rupiah tercatat melemah lebih dari 4 persen secara year to date dan sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar AS.

Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, menyebut secara historis Bank Indonesia biasanya mulai membuka ruang kenaikan suku bunga ketika pelemahan rupiah telah melampaui 3 persen.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat dinilai perlu mulai melakukan langkah antisipasi agar kondisi keuangan tetap aman jika suku bunga benar-benar naik.

Evaluasi Cicilan dan Pinjaman
Kenaikan BI Rate biasanya diikuti meningkatnya bunga kredit perbankan, mulai dari KPR, kredit kendaraan, hingga pinjaman usaha. Karena itu masyarakat disarankan mengecek kembali pinjaman berbunga floating, mengurangi utang konsumtif, dan menghindari mengambil cicilan baru yang tidak mendesak.

Langkah ini penting agar pengeluaran bulanan tidak semakin berat ketika bunga kredit mulai naik.

Perkuat Dana Darurat
Tekanan ekonomi global dan potensi perlambatan aktivitas usaha membuat masyarakat perlu memiliki cadangan keuangan yang cukup.
Dana darurat minimal 3–6 bulan kebutuhan hidup dinilai penting untuk mengantisipasi:
penurunan pendapatan, perlambatan usaha, maupun kondisi ekonomi yang belum stabil.
Apalagi PIER juga menyoroti cadangan devisa Indonesia yang telah turun sekitar US$10,27 miliar sejak awal tahun akibat tekanan pasar global.

Kurangi Belanja Tidak Prioritas
Kenaikan suku bunga sering diikuti melambatnya daya beli masyarakat. Di sisi lain, imported inflation atau inflasi akibat kenaikan harga barang impor juga mulai diwaspadai.

Karena itu masyarakat disarankan lebih selektif dalam mengatur pengeluaran dan menunda pembelian barang sekunder yang tidak terlalu mendesak.

Simpan Dana di Instrumen Lebih Aman
Saat suku bunga naik, bunga deposito dan instrumen pendapatan tetap biasanya ikut meningkat. Kondisi ini dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menjaga nilai uang, memperoleh bunga lebih tinggi, sekaligus mengurangi risiko investasi agresif di tengah ketidakpastian pasar.

Pelaku Usaha Perlu Menjaga Arus Kas
Bagi pelaku UMKM,

Kenaikan bunga berpotensi meningkatkan biaya modal dan operasional. Karena itu pelaku usaha disarankan menjaga cash flow, menekan pengeluaran tidak produktif, serta lebih berhati-hati mengambil pinjaman baru. Sejumlah ekonom menilai fokus utama Bank Indonesia saat ini memang bergeser untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal dan potensi arus modal keluar.

Meski demikian, pengamat menilai masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Kenaikan BI Rate umumnya dilakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang agar pelemahan rupiah dan lonjakan inflasi tidak semakin dalam. (AU)

Simak Berita Terbaru Langsung di Ponselmu! Bergabunglah dengan Channel WhatsApp Lintaskepri.com disini