Lintaskepri.con, Eropa – Gelombang panas ekstrem atau heat dome tengah melanda sejumlah negara di Eropa dengan suhu mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, bahkan di beberapa wilayah dilaporkan menembus 44 derajat Celsius. Kondisi ini memicu krisis kesehatan, mengganggu aktivitas masyarakat, hingga meningkatkan angka kematian akibat cuaca ekstrem.
Fenomena heat dome terjadi ketika sistem tekanan udara tinggi bertahan di suatu wilayah dalam waktu lama sehingga udara panas terperangkap di dekat permukaan bumi. Akibatnya, suhu terus meningkat dan sulit turun, bahkan pada malam hari.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut gelombang panas sebagai salah satu bencana alam paling mematikan yang sering kali tidak disadari dampaknya. Laporan terbaru menyebut lebih dari 1.300 kematian telah dikaitkan dengan gelombang panas yang melanda Eropa dalam beberapa hari terakhir, sementara para ahli memperingatkan jumlah tersebut masih berpotensi bertambah.
Sementara itu, para ilmuwan dari berbagai lembaga iklim internasional menyatakan intensitas gelombang panas tahun ini diperparah oleh perubahan iklim yang dipicu emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia. Mereka menilai kejadian panas ekstrem seperti saat ini menjadi jauh lebih mungkin terjadi dibanding beberapa dekade lalu.
Selain berdampak pada kesehatan masyarakat, suhu ekstrem juga menyebabkan gangguan transportasi, peningkatan konsumsi listrik, kebakaran hutan, hingga kerusakan infrastruktur di sejumlah negara Eropa. Pemerintah setempat telah mengeluarkan peringatan kesehatan, membuka pusat pendinginan bagi warga, dan mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan saat suhu mencapai puncaknya.
Para pakar mengingatkan bahwa gelombang panas diperkirakan akan semakin sering terjadi jika laju perubahan iklim tidak ditekan. Oleh karena itu, upaya pengurangan emisi karbon serta peningkatan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko korban jiwa di masa mendatang.

