Lintaskepri.com, Kalimantan – Berbeda dengan kebakaran hutan biasa yang terlihat dari kobaran api di permukaan, kebakaran gambut dapat merambat ke lapisan tanah di bawah permukaan. Api dapat membakar material organik di dalam gambut secara perlahan melalui proses membara atau smouldering.
Kondisi ini membuat kebakaran gambut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas pemadam. Meski api di permukaan terlihat sudah padam, bara di dalam tanah masih berpotensi bertahan dan memicu kebakaran kembali ketika kondisi lingkungan mendukung.
Kebakaran bawah permukaan juga dapat menghasilkan asap dalam jumlah besar yang berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Penanganannya tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat. Petugas perlu memastikan bahwa titik panas di dalam lapisan gambut telah ditangani secara menyeluruh. Karena itu, pemantauan titik panas, ketersediaan air, serta identifikasi kedalaman dan luas kebakaran menjadi bagian penting dalam upaya penanggulangan.
Cadangan Karbon Gambut Terancam Lepas ke Atmosfer
Selain menimbulkan ancaman kebakaran, kerusakan lahan gambut juga berdampak terhadap perubahan iklim.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications pada 2026 menunjukkan bahwa drainase dan kebakaran pada lahan gambut di Kalimantan Tengah menyebabkan pelepasan karbon dalam jumlah besar selama periode penelitian 1996–2014. Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya menjaga kondisi alami gambut agar karbon yang tersimpan selama ribuan tahun tidak terlepas ke atmosfer.
Apabila kerusakan terus berlangsung, lahan gambut yang seharusnya berfungsi sebagai penyimpan karbon dapat berubah menjadi sumber emisi gas rumah kaca.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa perlindungan gambut bukan hanya persoalan menjaga hutan, melainkan juga upaya melindungi keseimbangan iklim dan mengurangi risiko bencana lingkungan.
Pembasahan Kembali Gambut Menjadi Salah Satu Solusi
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kebakaran adalah memulihkan kondisi hidrologi lahan gambut melalui pembasahan kembali atau rewetting.
Langkah tersebut dapat dilakukan melalui pengelolaan tata air dan penyekatan kanal yang dirancang sesuai kondisi lahan. Tujuannya adalah mempertahankan muka air tanah agar gambut tetap lembap sehingga tidak mudah terbakar.
Sebuah penelitian mengenai restorasi gambut di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menemukan bahwa penyekatan kanal dapat membantu mengurangi kejadian kebakaran, terutama ketika penerapannya mampu membasahi kawasan gambut secara efektif.
Selain restorasi tata air, pencegahan pembukaan lahan dengan cara membakar, pengawasan kawasan rawan kebakaran, serta edukasi kepada masyarakat juga diperlukan untuk menjaga kelestarian ekosistem gambut.
Menjaga Gambut Berarti Melindungi Masa Depan Lingkungan
Karakteristik lahan gambut Kalimantan menunjukkan bahwa kerusakan yang terjadi di bawah permukaan dapat membawa dampak yang jauh lebih luas daripada yang terlihat di permukaan tanah.
Penurunan muka air tanah, penyusutan lahan, hilangnya cadangan karbon, dan kebakaran bawah permukaan merupakan rangkaian risiko yang saling berkaitan.
Karena itu, perlindungan gambut membutuhkan pendekatan jangka panjang melalui pengelolaan air, pemulihan ekosistem, pencegahan kebakaran, dan pengawasan aktivitas manusia.
Gambut yang tetap basah bukan sekadar bentang alam, melainkan benteng alami yang membantu menyimpan air, menjaga ekosistem, dan mempertahankan cadangan karbon bumi.






