'

Pendidikan Keaksaraan Berbasis Keluarga

Moh. Zahirul Alim (pria berkacamata) saat mengajar aksara kepada sejumlah anak didiknya.

Moh. Zahirul Alim (pria berkacamata) saat mengajar aksara kepada sejumlah anak didiknya.

Aksara adalah rangkaian huruf yang menuntun gerak langkah manusia, dengan aksara manusia berdaya, dengan aksara pula manusia mengenal peradaban. Bahkan lebih dari sekadar itu, dengan aksara pula manusia bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Manusia yang bisa membaca, menulis, dan berhitung tentu berbeda dengan manusia yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung. Hidup orang yang melek aksara akan jauh lebih berwarna serta berkualitas dibandingkan dengan orang yang belum melek aksara. Karena itulah melek aksara menjadi prasyarat mutlak perubahan hidup suatu bangsa.

Sebagai bangsa Indonesia, kita patut bersyukur, angka melek huruf masyarakat Indonesia berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan kebudayaan tahun 2017  berada di kisaran 97,93 persen. Itu artinya tersisa sekitar 2,07 persen lagi atau ada 3.387.035 juta jiwa (usia 15-59 tahun) yang masih buta huruf (Sumber: lihat di https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2018/09/indonesia-peringati-hari-aksara-internasional-tahun-2018). Menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk bisa menuntaskan masalah buta aksara yang menyisakan 2,07 persen secara nasional. Pertanyaan besarnya sekarang, bagaimanakah solusi ampuh menanggulangi permasalahan buta aksara yang tersisa 2 sekian persen tersebut? Melalui tulisan ini saya ingin mencoba berbagi ide terkait langkah terukur dalam menyelesaikan persoalan buta aksara.
Hemat saya, dalam menuntaskan ketidakberaksaraan kuncinya ada pada keluarga. Untuk itulah pendidikan keaksaraan berbasis keluarga sangatlah vital. Mengapa keluarga? Karena keluarga adalah tempat pertama yang wajib bertanggungjawab terkait baik buruk, maju mundur anggota-anggota di dalam keluarga itu. Termasuk dalam hal ini, jika ada dalam suatu keluarga satu orang anggota keluarga yang tidak bisa baca tulis, tidak mengenal aksara, tidak mengenal angka, maka pimpinan keluarga yang perlu dicari untuk dimintai tanggung jawab, mengapa ada anggota keluarganya yang tidak bebas dari kebutaan terhadap huruf dan angka.
Konsep pendidikan keaksaraan berbasis keluarga saya maksudkan sebagai terobosan alternatif keluarga ikut berpartisipasi menyelesaikan masalah pokok bangsa di sektor pendidikan dari lingkungan terdekat, dari  lingkungan keseharian manusia hidup. Bisa dibayangkan jika setiap keluarga benar-benar serius mengaplikasikan idealisme pendidikan keaksaraan berbasis keluarga ini, saya optimis angka  3.387.035 juta jiwa (usia 15-59 tahun) yang masih buta huruf dalam waktu tidak lama lagi menjadi melek aksara semua. Bagaimana cara teknis mewujudkan idealisme ini?
Setiap pemimpin keluarga idealnya mengindentifikasi masing-masing anggota keluarganya yang ada dalam satu rumah; Sudahkah mereka mengenal huruf, melek aksara, melek angka; apakah sudah bisa baca tulis dan berhitung? Jangan pernah ragu untuk mendata kemampuan masing-masing anggota keluarga sudah sejauh mana keberaksaraan mereka. Untuk apa? Untuk ditindaklanjuti dengan konkret setiap masalah menyangkut ketidakberaksaraan sekiranya ada anggota keluarga yang mengalaminya. Seorang bapak wajib bertanggungjawab atas keberaksaraan istri, dan anak-anaknya. Seorang kakak juga wajib bertanggungjawab atas keberaksaraan adik-adiknya.
Bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya? Jawabannya, tentu yang mampu bertanggungjawab atas yang kurang mampu. Tidak ada yang salah jika pada kenyataannya seorang istri yang bisa baca tulis kemudian mengajari sang suami yang belum bisa. Bukan masalah jika seorang adik menuntut kakaknya yang mungkin belum lancar baca tulis. Juga jika ada anggota keluarga lain seperti kakek nenek, om tante, paman bibi, sepupu, dua pupu, atau yang lain belum melek aksara maka anggota keluarga yang sudah melek aksara menuntun sosok-sosok yang masih belum bebas dari buta aksara di atas. Alangkah eloknya Indonesia jika setiap anggota keluarga memiliki keterpanggilan hati untuk mengambil peran sebagaimana saya paparkan di atas. Bisa dipastikan masalah pemberantasan buta aksara hanya tinggal menunggu waktu saja untuk benar-benar berubah menjadi zero illiteracy alias bebas buta aksara.

Pendidikan keaksaraan berbasis keluarga bisa juga dilakukan dengan cara fun literacy. Bahwa mengajarkan huruf, mengajarkan aksara, mengajarkan angka haruslah bersifat menyenangkan, tidak monoton dan membosankan. Cara-cara fun dalam mengajar keaksaraan bisa dilakukan dengan cara bermain game, seperti misalnya saat mengajarkan huruf S kita ibaratkan huruf S sebagai ular sedang duduk, mengajarkan huruf O atau angkal 0 kita umpamakan sebagai telur atau kue donat, mengajarkan huruf I atau angka 1 kita umpamakan sebagai tiang listrik, mengajarkan huruf Y kita umpakan sebagai ketapel, dan permisalan-permisalan lainnya.
Lebih dari itu, pendidikan keaksaraan bisa ditempuh dengan cara menyanyi, merangkai huruf menjadi kata, game tebak kata dengan memberikan pancingan sebuah gambar polos untuk diwarnai, lalu minta dituliskan nama benda tersebut kira-kira apa. Sekadar berbagi cerita, dahulu saya  mendapatkan pendidikan keaksaraan pertama kalinya dari keluarga terdekat, dari ibu bapak saya di rumah. Saya dikenalkan dengan beragam macam aksara dari A-Z, dikenalkan angka 0-100 jauh sebelum saya mengenyam pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK). Orangtua saya mengajarkan huruf dan angka dengan begitu telaten, menggunakan cara-cara sederhana dan menyenangkan. Hasilnya, saat sudah memasuki TK dan pendidikan Sekolah Dasar (SD) saya tidak memulai pelajaran baca tulis dan menghitung dari nol lagi karena sebelumnya sudah pernah mendapatkan materi itu di rumah. Inilah buah nyata pendidikan keaksaraan keluarga yang saya dapatkan. Bahwa segalanya berangkat dari lingkungan terdekat, segalanya berawal dari keluarga.
Cara-cara sebagaimana saya sebut di atas hanyalah gambaran kecil bagaimana pendidikan keaksaraan berbasis keluarga bisa dengan mudah diaplikasikan. Jika memang ada cara-cara kreatif lain sangat dipersilahkan untuk dicoba dan dipraktikkan. Misi kita bersama adalah saling bergotong royong memberantas tuntas sisa 2,07 persen masalah buta aksara yang ada di negeri tercinta ini. Setiap kita adalah keluarga, jadi mari pastikan semua elemen keluarga kita sudah melek akasara! Kalau bukan kita lantas siapa lagi yang mau peduli?

Moh. Zahirul Alim,
Alumni Pengajar Muda XV Indonesia Mengajar

Baca juga :

    Top