Pemko Tpi

Pedagang Culas Jual Air Limbah Bauksit, Dinkes Ingatkan Warga Hati-hati

Mobil tangki air terlihat menyedot air di lokasi bekas tambang bauksit Wacopek perbatasan Tanjungpinang Bintan, Sabtu (21/9).
Mobil tangki terlihat menyedot air di lokasi bekas tambang bauksit Wacopek perbatasan Tanjungpinang Bintan, Sabtu (21/9).

Tanjungpinang, LintasKepri.com – Sejumlah pedagang melakukan kecurangan menjual air bersih ke warga yang bersumber dari limbah bauksit di Jalan Daeng Celak, Senggarang, Kota Tanjungpinang, dan Sei Ungar, Wacopek.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang Rustam, mengingatkan warga berhati-hati menggunakan air bekas tambang bauksit.

“Air yang berasal dari lokasi bekas tambang bauksit mesti hati-hati bila digunakan,” ucapnya dikonfirmasi LintasKepri, Sabtu (21/9).

Rustam mengingatkan kualitas air diperhatikan jika air bekas tambang bauksit digunakan untuk keperluan sehari-hari.

“Perhatikan air tidak keruh, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, dan kadar keasaman baik, bisa digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian,” ungkapnya.

Akan tetapi, sambung Rustam, bila dipergunakan untuk memasak dan diminum harus memenuhi persyaratan kualitas. Selain persyaratan fisik dan kimia, juga harus memenuhi persyaratan bakteriologis.

“Maka harus dilakukan pengujian di laboratorium yang terakreditasi,” tuturnya.

Selain itu juga, kata Rustam, kendaraan pengangkut dengan wadah penampung air juga harus diperhatikan.

“Tidak boleh air minum dibawa dengan kendaraan yang biasanya dipakai untuk menyiram tanaman dan mengantar air untuk bahan bangunan,” tegasnya.

Menurutnya, air limbah bauksit tidak masalah digunakan untuk campuran material bahan bangunan dalam proses konstruksi, menyiram tanaman, mencuci kendaraan sepanjang bersih.

Saat ditanya apakah boleh air yang berada di lokasi bekas tambang bauksit diperjualbelikan, Rustam menegaskan bukan wewenangnya selaku Kepala Dinas Kesehatan untuk menyatakan boleh atau tidak.

“Kalau ditanya soal jual beli air yang berada di lokasi bekas tambang bauksit, saya pikir bukan kewenangan Kepala Dinas Kesehatan untuk menjawab,” tutupnya.

Lokasi bekas tambang bauksit Wacopek yang digunakan pedagang air bersih untuk menyedot air. Foto diambil Sabtu (21/9).
Lokasi bekas tambang bauksit Wacopek yang digunakan pedagang air bersih untuk menyedot air. Foto diambil Sabtu (21/9).

Berdasarkan penelusuran LintasKepri, Sabtu (21/9) siang, pedagang tidak jujur yang mengaku menjual air bersih terlihat menyedot air sisa limbah bauksit menggunakan mesin yang kemudian dimasukkan ke dalam tangki di lokasi tambang bauksit.

Di bekas tambang bauksit Senggarang, satu lori tangki air ukuran 5000 liter dan dua pick up ukuran 2000 liter terlihat membawa air usai menyedot. Air itu kemudian dibawa ke wilayah Tanjungpinang.

“Saya menjual satu tangki air sekitar Rp40 ribu sampai Rp50 ribu,” kata salah seorang sopir pick up di lokasi ketika ditanya.

Di kendaraan dengan wadah penampung air tersebut tertulis “jual air bersih” berikut nomor ponsel pedagangnya.

Lokasi bekas tambang bauksit di Senggarang berada sekitar 500 meter dari Jembatan Sei Carang Tanjungpinang. Lokasi itu tertutup oleh gundukan tanah dan semak belukar.

Puluhan kendaraan jenis lori dan pick up juga terlihat antre untuk menyedot air menggunakan mesin di lokasi bekas tambang bauksit Wacopek. Di lokasi ini salah satu pedagang membenarkan bahwa air sisa galian bauksit dijual ke warga Tanjungpinang dan sekitarnya.

“Iya bang, air ini dijual untuk warga yang pesan,” kata salah satu pedagang air bersih di lokasi bekas tambang bauksit Wacopek yang enggan menyebutkan namanya.

Pedagang air bersih di lokasi bekas tambang bauksit Wacopek ini terlihat gugup ketika ditanya apakah air limbah bauksit layak digunakan. Bahkan ia sempat meminta maaf dan membuang air bekas sisa galian bauksit yang telah disedot.

“Maaf bang, saya salah bang. Airnya saya buang bang,” kata pedagang air bersih yang enggan menyebutkan namanya ini bergegas pergi.

(cho/dar)