Meriah dan Sarat Makna: Sejarah, Budaya, dan Pantangan dalam Perayaan Imlek

Belladina
Meriah dan Sarat Makna: Sejarah, Budaya, dan Pantangan dalam Perayaan Imlek. Dok : Lintaskepri.com
Meriah dan Sarat Makna: Sejarah, Budaya, dan Pantangan dalam Perayaan Imlek. Dok : Lintaskepri.com

Lintaskepri.com, Tanjungpinang – Perayaan Tahun Baru Imlek bukan sekadar pergantian kalender lunar, melainkan momentum sakral yang sarat sejarah, tradisi, dan nilai budaya yang telah diwariskan selama ribuan tahun. Tahun Baru Imlek dirayakan oleh masyarakat Tionghoa di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, sebagai simbol harapan, pembaruan, dan doa untuk kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang.

Secara historis, Imlek berakar dari tradisi agraris masyarakat Tiongkok kuno. Salah satu legenda paling populer adalah kisah tentang monster bernama Nian yang konon muncul setiap pergantian tahun untuk mengganggu warga. Masyarakat kemudian mengetahui bahwa Nian takut pada warna merah, suara keras, dan cahaya terang. Dari sinilah tradisi memasang lampion merah, menyalakan petasan, serta menghias rumah dengan ornamen bernuansa merah bermula.

Dalam kalender Tiongkok, setiap tahun diwakili oleh satu dari dua belas shio dalam siklus zodiak, seperti Tikus, Kerbau, Macan, hingga Babi. Selain itu, terdapat lima unsur utama—kayu, api, tanah, logam, dan air—yang membentuk kombinasi siklus 60 tahunan.

Di Indonesia, perayaan Imlek memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Pada masa pemerintahan Orde Baru, ekspresi budaya Tionghoa sempat dibatasi. Namun sejak era reformasi di bawah kepemimpinan Presiden Gus Dur, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional, mempertegas pengakuan terhadap keberagaman budaya di Tanah Air.

Secara budaya, perayaan Imlek identik dengan sejumlah tradisi khas. Malam sebelum tahun baru diisi dengan makan malam bersama keluarga besar (reunion dinner) sebagai simbol persatuan dan keharmonisan. Anak-anak menerima angpao dalam amplop merah yang berisi uang sebagai lambang doa dan keberkahan. Selain itu, barongsai dan liong menjadi pertunjukan yang dinantikan karena dipercaya membawa energi positif dan mengusir roh jahat.

Beragam hidangan khas juga tersaji saat Imlek, seperti ikan yang melambangkan kelimpahan, kue keranjang sebagai simbol keakraban dan peningkatan rezeki, serta jeruk mandarin yang dipercaya membawa keberuntungan.

Namun, di balik kemeriahannya, terdapat sejumlah pantangan yang masih dipercaya dan dijalankan sebagian masyarakat Tionghoa. Di antaranya adalah tidak menyapu rumah pada hari pertama Imlek karena diyakini dapat “menyapu” rezeki keluar. Mengucapkan kata-kata kasar, bertengkar, atau menangis juga dihindari agar tidak membawa energi negatif sepanjang tahun. Selain itu, memecahkan barang pecah belah dianggap pertanda kurang baik, meskipun jika terjadi biasanya segera diucapkan doa penangkal sial.

Pantangan lainnya termasuk menghindari penggunaan pakaian berwarna hitam atau putih yang identik dengan suasana duka, serta tidak memotong rambut pada hari pertama tahun baru karena dianggap memotong rezeki.

Lebih dari sekadar tradisi, Imlek menjadi refleksi nilai kekeluargaan, penghormatan kepada leluhur, serta harapan akan kehidupan yang harmonis dan sejahtera. Di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk, perayaan Imlek menjadi simbol indahnya keberagaman yang saling menghormati dan memperkaya budaya bangsa.(bla)

Simak Berita Terbaru Langsung di Ponselmu! Bergabunglah dengan Channel WhatsApp Lintaskepri.com disini