disdik kota

Langkah Menjadi Keluarga Pembaca

LPP Gurindam web

img-20190430-wa0008

Oleh: Moh. Zahirul Alim, Alumni Pengajar Muda XV Kabupaten Natuna

Keluarga ideal adalah keluarga yang melek huruf, melek angka, gemar membaca, syukur-syukur bisa produktif menghasilkan tulisan. Kalaupun tidak sampai di level menulis, sampai di level suka membaca saja itu sudah cukup menggembirakan. Dikatakan begitu karena memang tidak mudah untuk menulis, namun bukan berarti tidak bisa dicapai. Segala peluang terbuka untuk keluarga yang ingin berkarya. Membaca adalah kunci menulis, bisa dipastikan seorang anggota keluarga yang bisa menulis pastilah ia terbiasa membaca.

 
Tulisan adalah buah dari pergulatan pikiran, hasil dari apa yang masuk ke otak. Jadi tidak mungkin otak bisa mengeluarkan ide-ide cemerlang, karya-karya brilian jika tidak memiliki input yang brilian pula. Karena itu, penting bagi otak mendapatkan banyak asupan bacaan yang berkualitas. Setiap keluarga bebas memilih mau menjadi tipikal keluarga seperti apa, keluarga pembaca saja, atau keluarga pembaca sekaligus penulis? Tulisan ini akan fokus membahas bagaimana cara menjadi keluarga pembaca berdasarkan pengalaman empiris saya.

 
Pertama kali saya mulai mengenal bahan bacaan di rumah adalah ketika bapak saya berlangganan koran. Setiap hari tukang koran mengantarkan koran ke rumah, dan setiap hari pula bapak menghabiskan waktu senggangnya untuk membaca koran langganannya. Saya menjadi tertarik membaca koran karena saya sering melihat bapak asyik membaca rubrik-rubrik koran yang ada. Saat itu saya masih menjadi siswa Sekolah Dasar (SD), jadi belum paham apa itu rubrik halaman utama, rubrik politik, rubrik ekonomi, rubrik kebudayaan, rubrik internasional, dan sebagainya. Saya hanya tertarik dengan rubrik olahraga dan entertainment khususnya berita sepak bola.

 
Bagi saya hal tersebut menarik karena ringan untuk dibaca, mudah dijumpai, dan sering mendapatinya di kehidupan sehari-hari baik di televisi ataupun di lingkungan sekitar. Jadi, bisa dipastikan saat koran tiba dan saya yang kebetulan menerima maka bisa dipastikan saya yang pertama kali membaca rubrik olahraga di koran tersebut. Saking terlalu seringnya saya membaca rubrik olahraga, dan meninggalkan yang lain bapak saya sampai menegur saya untuk tidak hanya membaca koran di bagian olahraga saja tapi juga bagian yang lain. Tujuannya tidak lain agar wawasan saya luas. Sebagai anak SD yang belum mengerti apa-apa, saya hanya diam dan terus saja membaca apa yang membuat saya nyaman dan tertarik untuk mengetahuinya.

 
Dari sinilah saya mulai mengenal bacaan, dari sini pula saya mulai menemukan zona nyaman membaca. Hari-hari saya yang sebelumnya diisi dengan banyak bermain, menghabiskan waktu di luar rumah perlahan berubah menjadi lebih sering di rumah. Waktu kosong saya gunakan untuk membaca koran langganan bapak. Perlahan tapi pasti, saya mulai tertarik membaca rubrik-rubrik lain di luar olahraga dan entertainment. Saya mulai membaca rubrik politik, hukum, otonomi daerah, dan sebagainya. Meskipun tidak mengerti substansi yang saya baca, saat itu yang ada dalam pikiran saya adalah yang penting membaca dulu, mau paham atau tidak belakangan. Lebih dari itu, menariknya adalah tidak sedikit tetangga yang juga ikutan nimbrung di rumah untuk membaca berita yang ada di koran hari itu. Pokoknya, koran langganan bapak cukup ampuh membuat saya dan orang-orang di sekeliling tergerak untuk membaca.

 
Selain berlangganan koran, terkadang saat bepergiaan dan pulang ke rumah bapak juga membawa buku, entah hasil minjam atau dapat dari membeli. Saat posisi buku nganggur, tidak sedang dibaca, saya biasanya iseng membaca, untuk sekadar memastikan apa isi dari buku yang bapak bawa. Ada satu hal yang tidak bisa saya lupakan, adalah saat bapak membelikan saya buku bahasa Inggris berjudul “English for Childen” yang di dalamnya ada gambar-gambar menarik untuk memvisualkan kata-kata dasar dalam bahasa Inggris. Mungkin momen tersebut adalah awal perkenalan saya dengan bahasa Inggris. Jujur, dari sini saya mulai tertarik belajar bahasa Inggris.

 
Bagi saya, dibelikan buku adalah suatu kesenangan, senang karena buku bersifat jangka panjang, tak lekang oleh waktu, bisa dipakai kapanpun. Momen lain yang tidak saya lupa adalah saat pergi ke kota, saya beberapa kali diajak bapak ke toko buku untuk berbelanja buku. Saat itu, saya tidak ragu untuk membeli buku-buku penunjang belajar saya seperti Buku Pintar, Ensiklopedia, Pembahasan Soal-Soal untuk Anak SD. Bapak biasanya belanja buku-buku agama. Sesampai di rumah buku-buku hasil belanjaan jelas akan menjadi bahan bacaan baru yang menarik untuk dilahap halaman per halamannya. Alhasil, waktu saya banyak tersita untuk berlama-lama di rumah, membaca apa yang sudah kami beli.

 
Berangkat dari kebiasaan ini, saya semakin tergugah untuk terus membaca dan mengoleksi buku-buku bacaan. Terbukti saat memasuki SMP-SMA yang mengharuskan saya tinggal di asrama, hobi membaca saya berlanjut, waktu kosong benar-benar saya gunakan untuk membaca, dan sebagian uang jajan saya sisihkan untuk membeli buku bacaan di koperasi sekolah. Dan saat libur buku-buku koleksi saya bawa ke rumah, dan uniknya saat saya membawa buku-buku hasil koleksi saya keluarga di rumah saya seperti bapak, ibu, dan adik saya tertarik untuk membacanya. Biasanya saya meletakkan buku-buku saya tersebut di kamar, sesekali saya bawa ke ruang tamu. Saat harus balik dari liburan buku-buku bawaan tidak saya bawa ke asrama dan sengaja ditinggal di rumah dengan harapan buku-buku tersebut bisa menjadi bahan bacaan keluarga saya.

 
Saya sangat bersyukur ternyata koleksi buku saya yang diperoleh dari hasil menyisihkan uang jajan cukup memadai untuk dijadikan perpustakaan sederhana. Meskipun tidak besar, saya mencoba mengkreasi perpustakaan mini di rumah, tepatnya di kamar pribadi saya. Saya mencoba memfungsikan lemari nganggur di kamar saya untuk dijadikan tempat saya mengamankan buku sekaligus perpustakaan, di mana anggota keluarga di rumah bisa membaca kapanpun mereka mau.

 
Dari cerita di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa budaya literasi keluarga bisa dibangun dengan cara-cara sederhana seperti melalui langganan koran, mengenalkan buku bacaan baru, mengajak anggota keluarga ke toko buku sekaligus berbelanja buku, membiasakan memberi anggota keluarga  hadiah buku, dan membangun perpustakaan keluarga di rumah. Singkatnya, jika ingin anggota keluarga kita menjadi pribadi pembaca, kutu buku kita harus membangun lingkungan rumah yang kondusif yang dapat  mendukung terciptanya iklim membaca. Ini kisah keluarga saya dalam kaitannya dengan budaya literasi keluarga. Bagaimana dengan Anda?