'

Lampu Mati Warnai Penutupan Workshop Seni Tari dan Musik Tradisional di Serasan

Tampak suasana saat mati lampu, pada acara penutupan Workshop Seni dan Musik Tradisional di Gedung BPMKS Serasan.

Tampak suasana saat mati lampu, pada acara penutupan Workshop Seni dan Musik Tradisional di Gedung BPMKS Serasan.

Natuna, LintasKepri.com – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Natuna, menutup secara resmi Kegiatan Workshop Seni Tari dan Musik Tradisional, yang dilaksanakan di Gedung Balai Pertemuan Masyarakat Kecamatan Serasan (BPMKS), Kampung Pelimpak, Kecamatan Serasan, pada Jum’at (28/06/2019) malam.

Namun sayangnya, penutupan Workshop yang dihadiri oleh sejumlah pejabat dilingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna, Pemerintah Kecamatan Serasan dan Serasan Timur, serta ratusan masyarakat tersebut, sempat diwarnai dengan peristiwa mati lampu, yang membuat sejumlah hadirin bersorak.

Meski demikian, acara tetap berlanjut, walau hanya dengan lampu penerangan seadanya. Ditambah dengan sejumlah lampu colok atau pelita, yang menerangi pintu masuk Gedung BPMKS. Peristiwa mati lampu tersebut, kira-kira hanya berlangsung sekitar 20 menit, sebelum akhirnya kembali menyala.

Kepala Bidang (Kabid) Kesenian dan Kebudayaan Disparbud Natuna, Hadisun, yang juga merupakan PPTK dalam kegiatan itu mengatakan, bahwa kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari tersebut, digelar dalam rangka untuk menggali kebudayaan yang ada di Kecamatan Serasan dan Serasan Timur.

Tampak salah satu pertunjukan seni yang ditampilkan pada acara penutupan Workshop Seni dan Musik Tradisional di Kecamatan Serasan

Tampak salah satu pertunjukan seni yang ditampilkan pada acara penutupan Workshop Seni dan Musik Tradisional di Kecamatan Serasan

Hadisun menyebutkan, bahwa ada sekitar 50 orang peserta yang turut berpartisipasi untuk menampilkan seni dan budaya yang ada di Daerah mereka masing-masing, terutama budaya yang ada di Kecamatan Serasan dan Serasan Timur. Diantaranya adalah tari hadrah, tari emping, tari zapin dan permainan alu.

“Permainan alu ini juga ada di daerah Pulau Bunguran Besar, karena dulu di sana ada padi. Disini juga ada permainan alu, karena disini juga ada tanaman padi dari Desa Payak. Makanya permainan alu juga berkembang di Serasan,” kata Hadisun.

Lanjut Hadisun, bahwa permainan alu yang ada di Kabupaten Natuna, berbeda dengan permainan alu yang ada didaerah lain. Kata dia, permainan alu di Natuna hanya terdapat satu lesung bulat dengan ukuran besar, namun anak lesung atau alunya memiliki jumlah yang cukup banyak.

“Dari hasil pengamatan kami ini, kami mencoba menggali dan memberi sedikit sentuhan atau polesan, agar lebih menarik. Salah satunya dari detail gerak dan mimik wajah sang pemainnya, yang perlu sedikit dirubah,” ujarnya.

Stand pameran yang ditampilkan oleh penggiat pariwisata dan budaya Natuna, sekaligus pendiri Jelajah Rantau Bertuah.

Stand pameran yang ditampilkan oleh penggiat wisata dan budaya Natuna, sekaligus pendiri Jelajah Rantau Bertuah.

Hadisun berharap, kedepannya setiap Kecamatan maupun Desa, bisa membuat kompetisi seni dan budaya, seperti yang telah dilakukan oleh Disparbud Natuna di Serasan dan Serasan Timur. Hal ini dimaksudkan agar menumbuhkan semangat bagi para penggiat seni dan budaya, terutama bagi para pemula, yang ingin melestarikan budaya dari daerah mereka masing-masing.

“Minimal dalam satu tahun ada kompetisi seni dan budaya ditingkat Desa atau Kecamatan. Desa bisa menganggarkan melalui anggaran mereka masing-masing, atau sharing dengan Pemerintah Kecamatan. Jangan hanya berharap dengan Dinas saja. Sekolah pun juga bisa membuat kegiatan seperti ini, untuk melestarikan budaya kita sampai ke anak cucu,” pungkas Hadisun.

Sementara Sekcam Serasan, Wendriady, mengucapkan terimakasih dan apresiasi setinggi-tingginya, atas partisipasi sejumlah sanggar seni yang ada di Kecamatan Serasan, dalam kegiatan Workshop Seni dan Musik Tradisional yang digelar oleh Disparbud Natuna. Seperti Sanggar Seni Sinar Mutiara, Sanggar Seni Terang Mutiara dan Kelompok Seni Melayu Raya.

“Kegiatan ini menyadarkan kita, bahwa seni budaya yang ada di Kecamatan Serasan, perlu kita pertahankan. Untuk itu, kita akan melakukan kegiatan berkelanjutan dalam melestarikan budaya ini,” tutur Wendriady.

Workshop yang juga turut dihadiri oleh Kapala Dinsos PPPA Natuna, Hj. Kartina Riauwita, Kapolsek Serasan, Danramil 06/Serasan atau yang mewakili, Dan Pos AL Serasan atau yang mewakili, para Kepala Desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dan sejumlah tamu undangan lainnya tersebut, ditutup secara resmi oleh Camat Serasan Timur, Khaidir.

Laporan : Erwin Prasetio

Baca juga :

    Top