Juni 2021, Premier Oil akan Bor Sumur Singa Laut 2 dan Kuda Laut 2 di Natuna

Ilustrasi kegiatan ekplorasi di Blok Tuna, Kepulauan Natuna.

Natuna, LintasKepri.com – Operator Migas di Blok Tuna, Premier Oil, akan melakukan pengeboran pada sumur Singa Laut 2 dan Kuda Laut 2, pada pertengahan bulan Juni 2021.

Kegiatan itu merupakan kelanjutan dari pengeboran sumur eksplorasi yang sudah dilakukan pada tahun 2014 (Singa Laut -1 dan Kuda Laut-1). Tujuannya sendiri untuk mendapatkan data tambahan terkait dengan cadangan yang ada di Blok Tuna sehingga dapat digunakan untuk membuat rencana pengembangan kedepan.

Berdasarkan pengeboran tahun 2014 lalu, diperkirakan “2P Resources” sebesar 104 MMBOE yang terdiri dari gas bumi dengan tingkat kandungan LPG dan kondesat tinggi.

Namun tahukah anda, Blok Tuna adalah wilayah Kerja migas di lepas pantai Indonesia yang terletak di Laut Natuna di sebelah perbatasan Vietnam dengan kedalaman air sekitar 110 meter.

Daratan Indonesia terdekat dari Blok Tuna adalah Pulau Sekatung, Kecamatan Pulau Laut, Natuna, dengan jarak dari sumur Kuda Laut berjarak 216 kilometer, dan dari sumur Singa Laut berjarak 218 kilometer.

Ilustrasi aktifitas pengeboran minyak di laut Natuna.

Sementara jarak Blok Tuna dengan fasilitas produksi Indonesia terdekat, yakni Natuna Sea Block A yang berada di sekitar perairan Anambas, berjarak sekitar 385 kilometer.

Informasi tersebut didapatkan media ini, dari kegiatan audiensi dan sosialisasi oleh SKK Migas Sumbagut kepada Pemkab Natuna, terkait pengeboran blok Tuna, pada Kamis (03/06/2021) kemarin, di Kantor Bupati Natuna.

Dengan jarak yang begitu jauh dengan lapangan produksi Indonesia, rencananya, pengembangan Lapangan Tuna oleh Premier Oil akan memakai fasilitas produksi milik Vietnam, yang hanya berjarak sekitar 115 kilometer dari Blok Tuna, demi meningkatkan nilai keekonomian.

Selain aspek ekonomi, lapangan Blok Tuna memiliki peran yang strategis secara geopolitik, karena letaknya berbatasan dengan Vietnam dan berada dekat dengan laut China Selatan yang saat ini menjadi fokus geopolitik berbagai negara. Beroperasinya blok Tuna akan semakin memperkuat kedaulatan Indonesia di wilayah tersebut.

Diketahui dari berbagai sumber, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Vietnam telah melakukan Memorandum of Understanding (MoU) yang pada intinya gas dari blok Tuna akan dikerjasamakan dengan mitra dari Vietnam antara Premier Oil dan Vietnam Oil and Gas Group.

Kiri, Wakil Bupati Natuna, Rodhial Huda.

Sebelumnya Wakil Bupati Natuna, Rodhial Huda, saat memimpin pertemuan dengan pihak SKK Migas dan KKKS, di Kantor Bupati Natuna, pada Kamis (03/06/2021) kemarin mengatakan, bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna akan mendukung penuh adanya aktifitas pengeboran minyak dan gas bumi (Migas) di sekitar laut Natuna. Ia berharap dengan di jadikannya wilayah Natuna sebagai lokasi pengeboran minyak, akan memberi dampak positif bagi daerah berjuluk Mutiara Diujung Utara Indonesia tersebut.

Dampak positif yang ia maksud, salah satunya dengan bertambahnya porsi Dana Bagi Hasil (DBH) Migas terhadap daerah penghasil, khususnya Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

“Selain itu kita juga menginginkan adanya putra daerah kita, yang dapat bekerja di perusahaan Industri Hulu Migas. Sehingga dengan adanya aktifitas pengeboran Migas, akan membuka peluang lapangan kerja bagi putra-putri daerah Natuna,” ujar Rodhial Huda.

Tokoh maritim Indonesia asal Natuna itu menyebutkan, selama ini Industri Hulu Migas telah banyak memberikan kontribusi bagi daerah penghasil, seperti Kabupaten Natuna dan Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA), salah satunya melalui program Corporate Social Responcibility (CSR) dan Program Pengembangan Masyarakat (PPM) yang di jalankan oleh SKK Migas bersama KKKS. (Erwin)