Ya Ampun, Usai Dibenahi Rusak Lagi. Jembatan Trans Batubi-Kelarik Butuh Pemerintah

Beginilah kondisi jembatan Trans Batubi-Kelarik yang kembali rusak usai diperbaiki.
Beginilah kondisi jembatan Trans Batubi-Kelarik yang kembali rusak usai diperbaiki.

Natuna, LintasKepri.com – Bagai melukis diatas air. Mungkin kalimat perumpaan tersebut sangat pas disematkan bagi masyarakat di Kecamatan Bunguran Utara, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Betapa tidak, masyarakat yang tinggal disebelah utara Pulau Bunguran Besar itu, hingga saat ini belum mampu menciptakan jembatan yang aman dan nyaman untuk dilalui, khususnya pada saat memasuki musim penghujan yang melanda wilayah mereka.

Pasalnya, jembatan darurat yang menghubungkan antara Kecamatan Bunguran Batubi dan Kecamatan Bunguran Utara itu, selalu membuat resah para pengguna jalan dari dan ke Kecamatan Bunguran Utara (Kelarik). Sebab saat musim penghujan tiba, jembatan yang terbuat dari kayu berukuran sekitar 5×10 meter persegi itu, sering rusak dan terbenam air. Sehingga sangat membahayakan bagi warga yang ingin melintasinya.

Padahal sudah beberapa hari ini Pemerintah Kecamatan Bunguran Utara, bersama jajaran TNI, POLRI, Satpol PP, PK KNPI Bunguran Utara bersama warga dan lembaga lainnya, saling bahu membahu untuk membangun jembatan darurat yang melintasi sungai Semala, yang sempat ambruk diterjang banjir.

Personel TNI, POLRI dan Warga saat membantu pengguna jalan melintasi genangan air yang membanjiri jalan.
Personel TNI, POLRI dan Warga saat membantu pengguna jalan melintasi genangan air yang membanjiri jalan.

Namun nyatanya usaha tersebut terkesan sia-sia. Pasalnya jembatan yang baru saja diperbaiki itu, kembali rusak tergerus derasnya air sungai Semala, yang meluap ketika hujan turun.

Selain dibayangi dengan resiko hanyut terbawa arus, para pengguna jalan juga terancam dengan keberadaan binatang reptil penghuni Sungai Semala. Sebab informasi yang beredar, sungai yang memiliki air berwarna hitam kemerah-merahan itu, merupakan habitat bagi buaya air tawar, yang dapat mengancam nyawa manusia.

Dengan rusaknya kembali jembatan darurat di Sungai Semala, memaksa Babinsa Kelarik Kopda Ruwiyadi dan Sertu Budihardjo, beserta Bhabinkamtibmas Kelarik Aiptu Widodo, Ketua PK KNPI Bunguran Utara Sudarso serta warga sekitar, kembali melakukan gotong-royong memperbaiki jembatan.

Warga harus ekstra hati-hati saat melintasi jembatan darurat di Sungai Semala.
Warga harus ekstra hati-hati saat melintasi jembatan darurat di Sungai Semala.

“Selain memperbaiki jembatan, kami juga membantu warga untuk menyeberang jalan yang tergenang banjir,” ujar Kopda Ruwiyadi kepada media ini, Sabtu (13/12/2019) petang.

Kata Ruwiyadi, pasca rusaknya jembatan, kendaraan bermotor roda dua dan roda empat belum mampu untuk menembus jalan lintas Batubi-Kelarik. Sehingga akses transportasi diwilayah tersebut kembali terganggu untuk sementara waktu.

“Kalau untuk kendaraan roda dua, kita bisa bantu untuk menyeberang, dengan cara ditandu kendaraannya. Kalau roda empat memang tidak bisa,” katanya.

Tanpa mengenal waktu, para relawan saat memperbaiki jembatan hingga malam hari.
Tanpa mengenal waktu, para relawan saat memperbaiki jembatan hingga malam hari.

Sementara itu Ketua PK KNPI Bunguran Utara, Sudarso, menuturkan, bahwa sebelumnya pihaknya bersama warga telah melakukan gotong-royong untuk membenahi jembatan tersebut hingga malam hari.

“Sampai malam kami memikul kayu, untuk memperbaiki jembatan tersebut,” ujar Sudarso melalui sambungan telepon.

Namun ternyata Tuhan berkehendak lain, usaha para warga bersama Pemerintah Kecamatan dan aparat keamanan lainnya, harus kandas akibat alam kembali mengamuk. Jembatan yang dibangun secara swadaya itu, akhirnya kembali ambles dihantam derasnya air sungai Semala.

Peristiwa tersebut seharusnya dapat menjadi cambuk bagi Pemerintah Provinsi Kepri dan Kabupaten Natuna, untuk membuat kebijakan dengan membangun jalan lanjutan dan jembatan diwilayah tersebut secara permanen. Sebab tanpa adanya campur tangan dari pemangku kekuasaan ditingkat Pemerintah Daerah tersebut diatas, berat rasanya bagi masyarakat setempat untuk keluar dari keterisoliran.

Sertu Budihardjo dan Kopda Ruwiyadi tampak sedang membantu warga melintasi genangan air yang membanjiri jalan trans Batubi-Kelarik.
Sertu Budihardjo dan Kopda Ruwiyadi tampak sedang membantu warga melintasi genangan air yang membanjiri jalan trans Batubi-Kelarik.

20 tahun Kabupaten Natuna dan Provinsi Kepri berdiri, ribuan kepala keluarga yang tinggal di Kecamatan Bunguran Utara, belum bisa merasakan kemerdekaan akses transportasi yang layak seperti daerah lainnya.

Padahal Pemerintah Republik Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, selalu menyerukan program pembangunan Infrastruktur yang dimulai dari daerah pinggiran. Kecamatan Bunguran Utara adalah salah satu daerah pinggiran yang ada di Pulau Bunguran Besar Kabupaten Natuna. Namun 5 tahun diperiode pertama kepemimpinan sang Presiden saat ini bersama Jusuf Kalla Wakil Presiden sebelumnya, masyarakat di Kecamatan yang terdiri dari 8 Desa tersebut, belum dapat merasakan program dari Pemerintah Pusat itu.

Entah sampai kapan mimpi seluruh masyarakat Bunguran Utara untuk mendapatkan sarana dan prasarana transportasi yang aman dan nyaman tersebut, bakal diwujudkan oleh Pemerintah yang berwenang.

Laporan : Erwin Prasetio