Pemko Tpi

Wati, Kartini Hebat Tanjungpinang

-Di gaji Rp. 33.000 Untuk Memenuhi Kehidupan Sehari-hari

 

Wati (36) bersama Kuswari (32) saat menyusun batu bata didalam dapur arang, PT ABS, Jalan Lembah Asri, Tobong Bata, Tanjungpinang.
Wati (36) bersama Kuswari (32) saat menyusun batu bata didalam dapur arang, PT ABS, Jalan Lembah Asri, Tobong Bata, Tanjungpinang.

Tanjungpinang, LintasKepri.com – Bertepatan dengan peringatan hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April 2016 hari ini, ada segelintir gambaran hidup Kartini-kartini hebat yang bekerja di balik bukit merah, tempat percetakan batu bata, tepatnya PT. ABS milik Pak Aceng, di Jalan Lembah Asri, Kilometer 9.

Penduduk tempatan menyebutnya Tobong Bata, tempat dimana para Kartini-kartini hebat bekerja mencari sesuap nasi demi kelangsungan hidupnya.

Siang itu, Rabu (20/4) matahari tepat diatas kepala, terlihat dari kejauhan belasan Wanita-wanita hebat mengangkat lengan berbalut kain di kepala dengan cucuran keringat yang sedikit demi sedikit membasahi sekujur tubuh mereka, sembari mengejar waktu untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, yaitu “Batu Bata”.

Wati (36) salah satu dari Wanita-wanita hebat itu juga mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengangkat 210 kilogram batu bata yang tersusun rapi di atas gerobak dorong milik perusahaan.

Tangannya yang berkepak seperti pria itu tak berhenti menahan beban gerobak agar kaki besi bisa bertahan sampai di “dapur” temapat dimana batu bata di bakar.

Sejak tahun 1992 wati sudah bekerja ditempat percetakan batu bata ini, sambil bekerja wati bercerita sedikit tentang kehidupannya hingga sampai di Kota Tanjungpiang, bekerja di Tobong Bata, milik Aceng yang juga berasal dari kampung tempat asalnya, Madura.

Bersama suami dan satu orang anaknya, Wati tinggal tak jauh dari Tobong, disana mereka telah disediakan rumah dengan segala fasilitas yang diberikan oleh Aceng, itu juga berlaku sama untuk semua pekerja buruh batu bata lainnya.

“Disini kami sudah disediakn, rumah, listrik, air, tinggal kerja dan cari uang untuk makan saja,” katanya.

Penghasilannya tidak tetap, dia mengatakan selalu ada usaha untuk menyeimbangi kehidupan sehari-hari dan membantu suaminya yang juga bekerja di pabrik itu.

“Supaya hidup bisa cukup, bisa makan, bisa bahagia, kita juga sebagai wanita juga harus kerja. Kerjasama dengan suami, saling membantu untuk hidup, yang penting bisa senang,” kata Wati sembari menyusun batu bata di dalam dapur arang.

Satu dapur arang berkapasitas sembilan ribu batu bata. Dalam satu dapur, Wati mendapat jatah seribu lima ratus batu bata, begitu juga dengan kelima rekannya. Jika dapur penuh, Wati mendapatkan upah Rp.33 ribu, sehari dia bisa mengumpulkan uang hingga ratusan ribu rupiah, itu jika pesanan bata ramai.

“Kadang dapat dua sampai 3 dapur arang satu hari, kalau sepi pesanan kadang sampai tiga empat hari ya gak kerja,” ungkapnya sambil tersenyum.

Tidak hanya mengangkut batu bata yang dilakukan Wati, jika sepi pesanan, Wati tidak bersantai, masih ada pekerjaan lain yang dilakukannya, yaitu memindahkan batu bata yang sudah siap di produksi ketempat dimana batu bata itu akan diangkut oleh truk ketempat mereka yang memesan batu bata.

Nah, disini Wati dibayar beda dengan upah mengangkut batu bata kedalam dapur arang. Untuk seribu batu bata basah yang siap untuk dipanggang, dia diupah Rp.23 ribu rupiah. Kadang ia dapat ratusan ribu, untuk setiap memindahkan batu bata.

“Untuk tambah-tambah ketimbang ngerumpi,” candanya kepada awak media ini.

Ditempat pabrik ini ada 13 (tiga belas) dapur arang, disetiap dapur panjangnya tak kurang 9 meter dengan tinggi 2 meter, semua berjejer sama panjang dan sama rata. Mereka bekerja sesuai dengan tugas dan fungsi, bahkan ada juga Pria yang tak sanggup untuk melakukan pekerjaan seperti Wati.

Di peringatan hari Kartini ini, Wati menitipkan pesan untuk para Wanita-wanita hebat lainnya, dia mengatakan “Bekerjalah selagi mampu, kuat dan tabah supaya kamu bisa sama-sama dihargai,” ungkapnya mengakhiri pertemuan kami. (Aji Anugraha)