Pemko Tpi

Tambang Pasir di Bintan Tutup, Pekerja Curhat ke Gubernur Isdianto

Tambang Pasir di Bintan Tutup, Pekerja Curhat ke Gubernur Isdianto, Minggu (20/9).

Tanjungpinang, LintasKepri.com – Pasca ditutupnya tambang pasir yang beroperasi di Kabupaten Bintan, membuat para pekerja kehilangan mata pencaharian.

Bukan hanya pekerja yang kehilangan mata pencaharian saja. Harga pasir di Pulau Bintan pun melambung tinggi akibat menipisnya stok pasir yang akan digunakan untuk bahan bangunan.

Hal itulah yang dicurhatkan oleh salah satu pekerja tambang pasir, Bone, kepada Gubernur Kepri Isdianto, saat silaturahmi di Kelurahan Air Raja, Kota Tanjungpinang, Minggu (20/9) kemarin.

“Kasian kami pak gubernur. Sudah lama juga kami tidak ada pekerjaan,” ujar Bone kepada Isdianto.

Bone yang mewakili para pekerja, berharap agar Isdianto dapat memperhatikan nasib mereka. Setidaknya ia meminta agar Isdianto melegalkan tambang pasir yang ada di Kabupaten Bintan.

“Kami mengusulkan agar tambang pasir dilegalkan. Kasian rekan-rekan kami. Bahkan sekarang kalau mau bangun rumah, harga pasir mahal,” pinta Bone.

Mendengar keluhan itu, Isdianto dalam waktu dekat akan mengumpulkan unsur terkait yang meliputi Dinas Energi Sumber Daya Alam, kepolisian, kejaksaan dan TNI agar bisa mencari jalan keluar atas keluhan para pekerja.

“Nanti kita bicarakan terlebih dahulu. Kasian kawan-kawan kehilangan mata pencaharian yang biasanya satu hari dapat Rp200 ribu, kini sepeser pun tidak,” ungkap Isdianto.

Dari penuturannya, Isdianto juga sedang berusaha agar tambang pasir yang ada di Kabupaten Bintan dapat beroperasi secara resmi sehingga tidak bertentangan dengan hukum.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat permasalahan ini ada jalan keluarnya. Kita sedang berusaha agar tambang pasir yang ada dapat beroperasi secara resmi,” pungkas Isdianto.

(san)