Solihin, Pengusaha Jamur Tiram Bermodalkan “Dengkul”

Solihin saat memanen jamur tiram hasil produksinya.

Solihin saat memanen jamur tiram hasil produksinya.

Natuna, LintasKepri.com – Petang itu, waktu sudah menunjukkan pukul 17:15 Wib, Ahad (09/12/2018). Namun Solihin (31) masih tampak sibuk bergelut dengan tumpukan sekam, yang merupakan serbuk kayu dari limbah meubel. Tatapannya sayu, namun terselip asa yang tersirat diantara kedua bola matanya.

Sempat tertegun sejenak, ia pun lalu melempar senyum kepada awak media lintaskepri.com, yang datang menyambanginya.

“Eh mas, darimana ?,” sapanya, membuka percakapan kami petang itu. Seraya memainkan kedua tanganya, untuk mengisi onggokan sekam ke kantong plastik putih ukuran 2 kilogram.

Ternyata, beberapa karung sekam yang telah diayak dan dicampur air dan adunan tepung terigu itu, akan ia jadikan sebagai baglog. Baglog merupakan suatu media untuk menumbuhkan tanaman jamur tiram.

“Ini lho mas, lagi ngisi sekam, buat beglog, untuk bikin jamur tiram,” jawabnya, saat ditanya apa yang sedang ia kerjakan.

Solihin tampak sibuk memasukkan sekam kedalam kantong plastik, sebagai baglog.

Solihin tampak sibuk memasukkan sekam kedalam kantong plastik, sebagai baglog.

Lantaran baru kali pertama mendengar dan melihat, kami pun penasaran untuk menggali lebih dalam informasi mengenai usahanya membudidayakan jamur tiram. Sambil malu-malu, akhirnya pria asal Lampung ini pun bercerita banyak tentang pahit manisnya menjalankan usaha kecilnya yang telah digelutinya sekitar 1 tahun.

Namun diantara penggalan kisah yang diceritakannya itu, ada fakta miris yang mampu mengiris hati pendengarnya. Betapa tidak, meski pekerjaan yang dijalaninya itu tidak semudah yang dibayangkan, ternyata hasil yang didapatkannya tidak sesuai seperti yang diharapkan. Bahkan ia pun mengaku terseok-seok untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya dari hasil menjual jamur tiram.

“Nggak imbang dengan jerih payahnya, Mas, untuk makan aja kadang nggak cukup,” akunya, dengan wajah memelas.

Sebab kata Solihin, proses pembuatan jamur tiram membutuhkan waktu yang cukup lama. Dari mulai menebar benih, waktu tercepat yang dibutuhkan mencapai lebih dari 3 bulan, untuk mengahasilkan jamur yang siap untuk dijual. Selama menunggu waktu panen, masih banyak perawatan yang harus dilakukannya saban hari. Dari mulai menyiram, membersihkan kotoran yang menempel di permukaan baglog hingga menyortir baglog yang terserang hama.

“Perawatannya kayak bayi, Mas, harus steril betul. Kalau nggak gitu, nggak mau tumbuh,” katanya.

Solihin tampak memasukkan baglog kedalam drum besi, siap untuk dikukus.

Solihin tampak memasukkan baglog kedalam drum besi, siap untuk dikukus.

Solihin memang telah memiliki istri dan dua anak yang menjadi tanggungjawabnya. Ia bersama keluarganya tinggal disebuah rumah kontrakan berukuran 5×7 m2, di kawasan Batu Hitam, Kelurahan Ranai, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Menyambung kisahnya, ternyata dalam sehari, ratusan baglog yang telah lama diproduksinya itu, hanya mampu menghasilkan rata-rata 5 hingga 8 ons jamur tiram. Sedangkan per ons, ia biasa menjualnya dengan harga Rp 8 ribu. Artinya, dalam sehari ia hanya memperoleh penghasilan sekitar Rp 40 hingga Rp 64 ribu.

“Hasil itu belum dipotong modal, Mas. Dan itu pun kalau pas lagi panen, kalau nggak pas panen, ya nggak ada hasilnya,” ungkapnya, saraya tertawa menghibur hati.

Setelah terus dikorek, akhirnya lelaki yang hobi memelihara ayam dan burung inipun menyeletup. Bahwa sebenarnya usaha jamur ini, kalau benar-benar ditekuni, dapat menghasilkan uang yang cukup besar. Lantaran tersandung modal, iapun mengaku tidak bisa memproduksi baglog dengan jumlah besar.

Pasalnya kata dia, untuk membudidayakan jamur tiram, ia harus memiliki ruang penyimpanan baglog dengan ukuran yang cukup luas. Sementara didalam ruangan tersebut, harus tersedia rak kayu untuk meletakkan baglog, sebagai media jamur tiram untuk tumbuh. Lalu ia harus memiliki open khusus, untuk merebus sekam dalam jumlah yang banyak. Kemudian ia harus menyiapkan kantong plastik dengan size tebal sebagai wadah sekam calon baglog.

Dengan sarana seadanya, Solihin tetap telaten menekuni usahanya membudidayakan jamur tiram.

Dengan sarana seadanya, Solihin tetap telaten menekuni usahanya membudidayakan jamur tiram.

“Belum lagi kita beli bibitnya, yang harus didatangkan dari Lampung sana. Apalagi buat ruangannya, itu modalnya sangat besar, Mas. Beli atapnya, kayunya untuk rak dan dinding. Belum lagi alat semprot dan lain sebagainya. Itu modalnya sangat besar,” terangnya, secara rinci.

Namun Solihin mengaku tidak bakal putus asa. Dengan bermodalkan niat dan kemauan untuk berusaha, ia pun tetap telaten menjalani usahanya, sebagai penyambung hidup dirinya beserta keluarganya tercinta.

Untuk menyiasati hal itu, Solihin pun membuat ruangan bagi tempat baglog di area sempit disamping rumahnya, dengan dinding dan atap yang terbuat dari daun alang-alang. Sementara rak nya terbuat dari bambu, yang didapatnya secara gratis dari tetangganya. Meski tampak sangat sederhana dan kurang maksimal, namun sudah mampu untuk membangkitkan semangatnya demi meraih asa, untuk mengubah nasib hidupnya agar lebih baik lagi.

“Untungnya sekamnya tidak beli, saya minta di meubel-meubel. Dan opennya untuk masak sekam itu, saya buat sendiri dengan drum besi, bekas wadah minyak. Pokoknya modal nekat ajalah. InshaAllah kalau ada kemauan, pasti ada jalan,” ungkapnya, dengan optimis.

Hari pun semakin malam, namun Solihin belum memperlihatkan tanda-tanda untuk mengakhiri pekerjaannya dan beristirahat. Bahkan ia tampak sibuk mempersiapkan tungku, untuk memasak sekam yang telah dimasukkannya dalam wadah plastik.

“Ini masaknya butuh waktu minimal enam sampai delapan jam,” bebernya, yang membuat kami tercengang.

Dengan ditemani secangkir kopi hitam dan sebungkus rokok filter, Solihin tampak siap bermandikan embun yang tersaji bersama hembusan bayu digelapnya malam. Ia pun pelan-pelan mulai menyusun ratusan baglog kedalam sebuah drum besi, yang telah dilengkapi dengan plastik terpal sebagai penutupnya. Api pun mulai dinyalakan, sebagai pertanda pekerjaan selanjutnya baru dimulai.

Sambil menunggu api tungku agar tidak padam, lelaki yang menginjakkan kakinya di Natuna sekitar 5 tahun silam itu, kembali melanjutkan cerita tentang masalahnya membudidayakan jamur tiram.

Pria kelahiran 1987 itu menambahkan, peminat jamur tiram di Kota Ranai, Kabupaten Natuna, sebetulnya sangat tinggi. Ia pun mengaku keteteran untuk memenuhi permintaan konsumen. Namun apalah daya, lagi-lagi keterbatasan modal menjadi penghalang utama. Kondisi ini membuat dirinya merasa gundah. Pasalnya jika memiliki cukup modal, ia yakin dapat mengembangkan usahanya menjadi lebih besar.

“Sebenarnya usaha jamur ini prospecnya bagus, karena belum ada saingannya,” ucapnya, sambil menghisap rokok dalam-dalam. “Namun karena nggak ada modal, ya macet. Dapat uang sikit untuk makan, jadi nggak bisa nambah modal,” katanya lagi.

Solihin berharap ada orang yang bersedia meminjamkan modal, maupun adanya bantuan tambahan modal dari Pemerintah, agar dapat mengembangkan usahanya tersebut.

“Karena kalau hanya modal dengkul, susah kita mau maju, Mas,” tandasnya, mengakhiri.

Laporan : Erwin Prasetio

Baca juga :

    Top