Soal Iklan Kontroversi Suzuki Arista, Kadin: Identik dengan Kemewahan

Ketua Kadin Kota Tanjungpinang, Muhammad Yunus.

Tanjungpinang, LintasKepri.com – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Tanjungpinang menyoroti sejumlah banner iklan milik dealer mobil Suzuki Arista yang terpasang di jalan wilayah Kota Tanjungpinang.

Menurut Ketua Kadin Kota Tanjungpinang, Muhammad Yunus, iklan tersebut sedikit menggelitik karena menerapkan tema “Jangan Ngaku Merdeka! Kalau Mama Cuma Minta Papa Pulsa! Saatnya Mama Minta Mobil Baru!” yang dari bahasa dan kalimatnya identik menggambarkan kemewahan.

“Identik dengan penggambaran kemewahan atau kekayaan di suatu keluarga. Bahkan dengan kata belum merdeka,” ujar Yunus kepada LintasKepri, Senin (14/9).

Di sisi lain, dari sudut bisnis disaat situasi sedang pandemi COVID-19, Kadin memandang lini usaha berlomba-lomba meraup keuntungan.

“Untuk bertahan dalam kondisi ekonomi yang lemah sekarang ini saja, daya beli jatuh. Tentunya dunia industri melakukan segala upaya untuk pemasaran produk,” tutur Yunus.

Ditambah lagi, kata dia, bagian pemasaran ditarget untuk hasil penjualan produk. Tentunya dengan trik-trik pemasaran pasti gencar untuk promosi.

Kadin sendiri menyikapi itu sebuah teknik pemasaran untuk mendapatkan pangsa pasar masyarakat.

“Tergantung sudut pandang cara kita melihat, dari sudut mana cara kita menilai. Kalau dilihat dari sisi sudut pandang sosial, pemilihan kalimat bahasanya seperti kurang pas,” ujar Yunus.

Tapi, kata dia, mungkin ini cara Suzuki Arista agar iklan tersebut terlihat menarik dan berbeda.

“Tujuannya untuk menarik pasar konsumen. Tergantung kita saja memandang. Secara sosial atau bisnis. Wajar jika sebagian masyarakat akan menilainya berbeda,” tegas Yunus.

Kadin berharap, kritikan dan masukan masyarakat terhadap dunia indistri tetap dipandang positif oleh pelaku industri.

“Karena bagaimana pun juga masyarakat dan konsumen merupakan aset bagi pelaku industri dalam hal penjualan produk,” katanya.

Sebelumnya, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMRAH, Abdul Malik, menyayangkan hal itu.

Menurutnya, banner iklan tersebut dari segi moral tidak baik dan tidak layak dikonsumsi bagi khalayak umum.

“Karena lebih mengutamakan kehidupan mewah dan kebendaan. Cinta sejati suami-istri lenyap oleh godaan benda-benda mewah,” kata Abdul Malik, Minggu (13/9).

Kemudian, ia kecewa dengan tulisan “Jangan Ngaku Merdeka”. Karena, kata Malik, perkataan itu membuat diskriminasi orang tertentu.

“Ya, itu juga salah. Pertama, seolah-olah orang yang tak memiliki mobil tersebut belum merdeka. Kedua, merdeka diukur dari sudut keberadaan mobil pribadi,” tuturnya.

Abdul Malik berpesan kepada Suzuki Arista agar dalam membuat produk iklan memperhatikan unsur budaya.

“Dan harus perhatikan kaidah bahasa nasional dan bahasa negara kita. Iklan harus mendidik,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Suzuki Arista Kota Tanjungpinang, Ade Kurniadi, hingga berita ini diterbitkan belum merespons konfirmasi yang dilayangkan oleh awak media ini. Padahal, pesan singkat yang dilayangkan melalui WhatsApp sudah dibaca olehnya.

(san)