'

Sidang Lanjutan Supriyanto, Ibu Korban Minta Terdakwa Dihukum Seadil-adilnya

– Kasus Penganiayaan Anak Dibawah Umur

Sidang kasus penganiayaan anak dibawah umur dengan terdakwa Supriyanto warga Kelurahan Pinang Kencana, kembali digelar di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Selasa (8/10) siang, dipimpin Ketua Majelis Hakim Coorpioner didampingi Ramauli Hotnaria Purba dan Guntur Kurniawan selaku Hakim Anggota.

Sidang kasus penganiayaan anak dibawah umur dengan terdakwa Supriyanto warga Kelurahan Pinang Kencana, kembali digelar di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Selasa (8/10) siang, dipimpin Ketua Majelis Hakim Coorpioner didampingi Ramauli Hotnaria Purba dan Guntur Kurniawan selaku Hakim Anggota.

Tanjungpinang, LintasKepri.com – Sidang kasus penganiayaan anak dibawah umur dengan terdakwa Supriyanto warga Kelurahan Pinang Kencana, kembali digelar di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Selasa (8/10) siang, dipimpin Ketua Majelis Hakim Coorpioner didampingi Ramauli Hotnaria Purba dan Guntur Kurniawan selaku Hakim Anggota.

Sidang dengan agenda menjawab eksepsi dari Kuasa Hukum terdakwa Supriyanto, Dicky Eldina Oktaf, dibacakan oleh JPU Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjungpinang Zaldi Akri.

JPU Zaldi Akri tetap dengan dakwaan awalnya dan meminta kepada Majelis Hakim membatalkan eksepsi tersebut.

“Dimana perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 80 Undang-undang RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas undang-undang nomor 23 tahun 2002,” katanya.

Dilansir dari Prokepri.com, dalam dakwaan yang dibacakan JPU pengganti Zaldi Akri menguraikan bahwa terdakwa Supriyanto melakukan perbuatannya pada Rabu 17 April 2019 lalu.

Kejadian tersebut bermula ketika anak saksi korban berada di Mushola Miftahul Fallah sekira pukul 18.30 WIB diajak oleh saksi satu dan saksi dua untuk pergi ke rumah anak terdakwa untuk menanyakan kenapa setiap korban membawa motor selalu dihadang, lalu oleh anak terdakwa mengatakan bahwa ‘kau bawa motor sengak’.

“Setelah kejadian tersebut terdakwa keluar dari rumahnya, kemudian melayangkan tendangan kepada korban namun dapat dielak, lalu kemudian terdakwa kembali melayangkan pukulan dengan cara meninju dan mengenai hidung korban,” bunyi dakwaan JPU.

Tak berhenti disitu, terdakwa kembali melakukan tendangan dan mengenai punggung korban, lalu terdakwa memukul menggunakan kayu, lalu ditangkis oleh korban dengan menggunakan tangga.

“Usai memukul dengan kayu, terdakwa kembali menendang dan mengenai punggung dan terakhir terdakwa menghantukkan kepalanya kepada muka korban,” ungkapnya.

Atas perbuatan terdakwa, korban yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama ini mengalami luka memar dibagian hidung, tangan dan punggung.

“Berdasarkan surat visum yang dikeluarkan oleh RSUD Raja Ahmad Thabib, korban mengalami luka memar dibagian hidung, memar dibagian mulut, memar dibagian tangan dan punggung,” sebut JPU.

Bahkan terdakwa sempat mengeluarkan kata-kata tidak sopan terhadap korban.

“Dasar anak A*****,” bunyi dakwaan JPU.

Sidang ditunda dan kembali digelar pada Selasa (15/10/2019) mendatang dengan agenda mendengarkan risalah oleh Kuasa Hukum terdakwa Supriyanto, Dicky Eldina Oktaf.

Terpisah, kepada LintasKepri, Reni yang merupakan ibu FP (korban penganiayaan) meminta terdakwa Supriyanto dihukum seadil-adilnya.

“Saya minta kepada pengadilan agar terdakwa dihukum seadil-adilnya karena telah melakukan pemukulan dan penganiayaan berat terhadap anak saya,” ucap Reni orang tua korban saat berada di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Selasa (8/10).

Reni menjelaskan, akibat kejadian pemukulan terhadap anaknya itu, yang dilakukan terdakwa pada 17 April 2019 lalu, korban mengeluh ketika bernafas. Selain itu, korban juga selalu pusing sehingga saat menerima pelajaran di sekolah tidak maksimal.

“Dan ini berlangsung selama dua bulan,” terang Reni.

Dari awal kejadian hingga ke meja hijau, kata Reni, tidak ada sedikitpun iktikad baik dari terdakwa untuk meminta maaf dan mengakui perbuatannya.

“Ini yang membuat saya sangat kecewa dan tetap ingin meneruskan kasus ini,” ungkapnya.

Selain itu, Reni dan keluarga juga merasa kecewa karena terdakwa tidak ditahan dan dibiarkan berkeliaran bebas.

“Terdakwa tidak ditahan juga membuat saya kecewa,” tuturnya.

Sepengetahuan Reni dari keterangan pihak kepolisian setempat, terdakwa tidak ditahan karena ancaman hukuman dibawah 5 tahun penjara.

(cho)

Baca juga :

    Top