Pencari Suaka di Kota Gurindam

Pemko Tpi
Hamzah (21) Imigran asal Afganistan menunjukkan ekspresinya saat diambil ambil gambarnya
Hamzah (21) Imigran asal Afganistan menunjukkan ekspresinya saat diambil gambarnya (Foto : Aji Anugraha)

Tanjungpinang, LintasKepri.com – Ketika di negeri sendiri tak lagi damai dan tentram hingga akhirnya kehidupan terusik akibat terjadinya peperangan maupun konflik berkepanjangan menjadi penyebab para imigran pencari suaka harus pindah demi nyawa pemberian Tuhan Yang Maha Esa.

Bermodalkan tekad dan keyakinan bercampur kesedihan meninggalkan tanah kelahiran sendiri sembari memikirkan negara yang dituju demi menyambung hidup karena tanah kelahiran tak mau lagi bersahabat. Bahkan tak sedikit hingga tak terhitung pula jumlah ruh meninggalkan jasad dikarenakan tamu tak diundang memborbardir menggunakan amunisi dan peralatan tempur.

Ingin melawan apalah daya berhubung tenaga tak lagi kokoh ditambah lagi subsidi makanan yang bisa dihitung dengan jari masuk ke organ tubuh sebagai modal bisa berdiri tegak.

Mau tak mau harus berputar otak mencari negara baru dan kehidupan baru walaupun mengalir air mata dalam bathin. Ketika niat baik tak disambut di negeri orang tentunya menjadi kendala dan hambatan. Hanya doa dan belas kasihanlah sebagai modal utama agar bisa diterima di negara baru. Padahal mata dunia telah mengetahui keluhkesah sang pencari suaka.

Imigran gelap asal Afganistan, Hamzah (21), 422 dari total keseluruhan pencari suaka yang ditampung di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pusat Kota Tanjungpinang, Jalan Ahmad Yani, Tanjungpinang berani menceritakan tentang bagaimana ia mencari daerah yang aman buat menjalani kehidupan.

Bersantai bersama tiga rekannya satu negara Ali, Abu, Sidan di koridor Rudenim Pusat Tanjungpinang, Jumat (31/4) siang melambaikan tangan ketika lensa bidik mata  menghadap ke sudut jeruji besi. Perlahan mendekat bersama senyuman gigi putih bersih tanda ingin berkenalan.

“Assalam,” kata Hamzah, saat ditemui Tim LintasKepri.com, Sabtu, (31/4).

Hamzah bersama Ali, Abu dan Sidan berkumpul bersama, di koridor Rudenim Pusat Tanjungpinang, Jumat (31/3) sore.
Hamzah bersama Ali, Abu dan Sidan berkumpul bersama di koridor Rudenim Pusat Tanjungpinang, Jumat (31/3) sore. (Foto : Aji Anugraha)

Dirumah penampungan tersebut yang saat itu jarum jam menunjukkan angka 14.00 WIB dibalut sinar matahari sore yang cukup terik tampaknya tak mengusik para pencari suaka ketika berkumpul bersama bahkan mereka berbincang cukup akrab dengan pencari suaka lainnya beda negara dihiasi baju yang diletakkan dipundak.

Hamzah bercerita dan mengaku berada di Tanjungpinang sejak enam bulan lalu. Sebelumnya dia ditampung di Rudenim Pusat Jakarta di bawah pengawasan UNHCR. Dirinya juga sudah berada di Indonesia selama tiga tahun.

Hamzah beralasan terpaksa meninggalkan negara tercintanya akibat konflik berkepanjangan dan tak kunjung usai yang dilakukan kelompok bersenjata Taliban.

“Negara kami selalu perang,” katanya sembari tersenyum kepada awak media ini.

Masih ada 218 lagi sahabat dan saudara bersembunyi di dalam rumah terbesar se-Asia tersebut. Meski dalam kondisi seadanya, Hamzah bersama rekan lainnya sesama dari Afghanistan mengaku menjalani ibadah syariat Islam berpuasa. Dia bersama 422 orang imigran gelap dari 13 negara yang ditampung di Rudenim tersebut dijatah makan dua kali sehari yakni saat sahur dan berbuka puasa.

“Kami makan dua kali sehari,” ujarnya sebagai seorang muslim.

Rumah Detensi Imigrasi Pusat Tanjungpinang
Rumah Detensi Imigrasi Pusat Tanjungpinang. (Foto : Aji Anugraha)

Berhubung Rudenim terbesar dan megah se-Asia Tenggara tersebut berkapasitas terjangkau dan sempit harus memaksa dirinya tidur di koridor luar teralis rumah penampungan itu. Tak jarang juga di malam harinya mereka pindah ke koridor dalam ruangan jika ruangan kamar penampungan tak sempit. Walaupun tempat penuh dan sumpek dilaluinya dengan kesabaran, ibarat peribahasa hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, sebaik-baik negeri orang tidak sebaik negeri sendiri.

Sembari menutup perjumpaan dengan Hamzah, awak media ini mendapatkan titipan pesan dari Hamzah sang pencari suaka. Dirinya meminta kepada pemimpin dan penguasa negara agar memperhatikan kaum tertindas.

“Saya senang disini, tenang, nyaman dan damai. Saya suka kota ini, dan semoga kita bisa berjumpa diluar sana dan menatap kembali Matahari wahai saudaraku,” tutupnya menghiasi sejuta harapan.

– Kepala Rudenim Tanjungpinang

Kepala Kantor Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pusat Tanjungpinang, Surya Pranata menyebut sejauh ini sebanyak 422 imigran gelap berada di Tanjungpinang dalam pengawasan kantor Imigrasi. Kebanyakan dari mereka (imigran gelap,red) asal Timur Tengah yakni Afganistan, Irak, Iran dan Suriah.

Menurutnya, imigrasi hanya bertindak sebagai pengawas. Sedangkan untuk kebutuhan makanan dan tempat tinggal para pengungsi merupakan tanggung jawab International Organization of Migration (IOM).

“IOM sebuah lembaga khusus yang menangani pengungsian di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). IOM yang memberi makan dan fasilitas kesehatan mereka,” tegasnya.

Meskipun ada dugaan biaya kesehatan dan makan minum imigran itu digelapkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab beberapa waktu lalu, Kepala Rudenim Tanjungpinang ini membantahnya.

“Itu tidak benar, dan semuanya berjalan dengan baik sesuai dengan aturan yang ada. Bahkan para pendatang gelap itu tetap dijatah makan dua kali sehari yakni pagi menjelang siang dan sore menjelang malam,” ungkapnya.

Meskipun pada kenyataannya banyak dari para pengungsi tersebut terpaksa harus tidur-tiduran di samping Rudenim Pusat Tanjungpinang lantaran kabarnya untuk dipekerjakan keluar dari Rudenim.

Sedangkan untuk dana bantuan dari IOM yang diduga milyaran rupiah lagi-lagi dibantah oleh Surya.

“Kalau itu benar terjadi sesuai kenyataannya sudah tentu saya diperiksa Komisi Pemberantas Korupsi (KPK),” tegasnya.

Padahal diketahui, informasi yang didapati dari sumber terpercaya, pada tiga tahun yang lalu, puluhan mahasiswa hendak menggelar demonstrasi ke kantor imigrasi terhadap masalah jatah makan dan fasilitas kesehatan yang diduga dimakan oknum tak bertanggung jawab.

Sementara Surya mengaku, Rudenim Pusat Tanjungpinang cukup kewalahanan mengawasi pendatang gelap yang terus membludak. Dia pun dibuat pusing akibat ulah para imigran gelap yang terkesan tidak taat aturan. Padahal, Rudenim telah memberikan identitas khusus bagi mereka agar tidak sembarangan berkeliaran di Tanjungpinang.

“Namun para pengungsi itu tetap saja membandel,” tuturnya. (Aji Anugraha)