Natuna, Miniatur Indonesia Diujung Utara Negeri Penjaga Kebhinekaan

Potret pusat Ibu Kota Kabupaten Natuna. (foto internet)

Natuna, LintasKepri.com – Kabupaten Natuna, merupakan salah satu daerah terletak di ujung utara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Secara administratif, daerah ini masuk kedalam wilayah Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Kabupaten yang berdiri sejak tahun 1999 itu, di huni oleh bermacam-macam suku, ras, agama, budaya dan bahasa. Melayu adalah penduduk pribumi asli dari daerah berusia 22 tahun tersebut. Sisanya adalah warga pendatang, yang telah tinggal dan menetap disana. Sebut saja suku Jawa, Sunda, Betawi, Madura, Batak, Bugis, Minang hingga Tionghua, adalah suku pendatang dari berbagai daerah di Indonesia, yang awalnya merantau ke Natuna, namun kini sudah menetap dan di terima dengan baik oleh warga pribumi.

Demikian pula dengan agama, suku melayu asli Natuna mayoritas, bahkan bisa di katakan keseluruhannya, merupakan suku dengan agama Islam. Namun dengan banyaknya warga pendatang, kini bukan hanya Islam satu-satunya agama yang berkembang di Kabupaten Natuna, namun juga sudah terdapat agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Namun agama Islam masih sangat mendominasi di daerah berjuluk Laut Sakti Rantau Bertuah tersebut.

Meski terdapat banyak suku, ras, budaya dan agama, namun perlu di catat, bahwa daerah yang berbatasan langsung dengan sejumlah negara tetangga, seperti Thailand, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Brunei Darussalam dan Tiongkok itu, belum pernah ada sejarahnya antar golongan di daerah tersebut mengalami selisih paham, yang menyebabkan gesekan.

Kepala Bakesbangpolda Natuna, Muchtar Ahmad, saat ditemui awak media di kediamannya.

“Syukur Alhamdulillah, meski ditempat kita (Natuna, red) banyak terdapat suku, ras, budaya, agama dan golongan, namun sampai saat masih sangat harmonis, belum pernah ada gesekan sama sekali,” jelas Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah (Bakesbangpolda) Natuna, Muchtar Ahmad, saat di temui awak media di kediamannya, di Gang Keluntan, Kelurahan Batu Hitam, Kecamatan Bunguran Timur, pada Selasa (18/05/2021) siang.

Hal ini kata Muchtar, berkat adanya dukungan dan kerjasama yang baik antar sesama masyarakat. Masyarakat Natuna, kata dia, sangat menghargai adanya perbedaan. Sikap saling toleransi di tengah kemajemukan masyarakat Natuna, masih dapat terjaga dengan baik hingga saat ini.

Muchtar menyebutkan, selama ini Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna melalui Bakesbangpolda, terus melakukan pembinaan terhadap Forum Kerukunan antar Umat Beragama (FKUB), Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) dan sejumlah Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang ada, dalam rangka menjaga keharmonisan di tengah kemajemukan masyarakat Natuna.

Dijelaskan Muchtar, FKUB adalah forum yang di bentuk oleh masyarakat dan di fasilitasi oleh Pemerintah, dalam rangka membangun, memelihara dan memberdayakan umat beragama untuk kerukunan dan kesejahteraan. FKUB Natuna sendiri di Ketuai oleh Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Natuna, H. Wan Zawali.

Ketua FKUB Natuna sekaligus Ketua LAM Natuna, H. Wan Zawali.

Sementara FPK adalah wadah informasi, komunikasi, konsultasi dan kerjasama antara warga masyarakat, yang diarahkan untuk menumbuhkan, memantapkan, memelihara dan mengembangkan pembauran kebangsaan. Untuk di Kabupaten Natuna, forum ini di Ketuai oleh Ketua LAM Kecamatan Bunguran Timur, Wan Suhardi.

“Kita akan terus melakukan yang terbaik untuk meningkatkan keharmonisan antar umat beragama, ras, suku dan budaya, demi keutuhan bangsa dan negara,” tegas Muchtar.

Lelaki asal Okan Komering Ulu (OKU) Provinsi Sumatera Selatan itu, meminta kepada seluruh elemen masyarakat, agar dapat menghargai adanya perbedaan suku, ras, agama dan budaya yang ada di Kabupaten Natuna. Sehingga daerah yang terdiri dari 15 Kecamatan itu, dapat menjadi miniaturnya Indonesia, yang dapat menjaga kebhinekaan dalam berbangsa dan bernegara, dengan tetap memegang teguh nilai-nilai Pancasila.

“Kami berharap rekan-rekan media dapat memberikan edukasi kepada masyarakat, agar mereka bisa merasa saling memiliki antar satu dengan yang lainnya. Meski kita berbeda-beda, namun harus tetap bisa bersatu sampai kapanpun,” pesan Muchtar Ahmad.

Plh. Bupati Natuna, Hendra Kusuma.

Hal senada juga di sampaikan oleh Plh. Bupati Natuna, Hendra Kusuma. Menurutnya, hubungan antar masyarakat di Kabupaten Natuna sangat harmonis. Meski terdapat beragam suku bangsa, ras, agama, budaya dan bahasa, namun satu sama lain saling menghargai dan saling toleransi.

“Seperti kita ketahui bersama, di daerah kita belum pernah ada yang namanya perselisihan paham yang di dasari karena perbedaan agama, ras, suku maupun budaya. Ini harus kita pertahankan, jangan sampai ada perpecahan,” ucap Hendra Kusuma.

Hendra Kusuma berharap, keharmonisan yang telah tercipta di tengah masyarakat Natuna dapat terus terjaga, bahkan bisa menjadi contoh bagi daerah-daerah lain di Indonesia. (Erwin)