Merawat Indonesia

Moh. Zahirul Alim.

Moh. Zahirul Alim.

Oleh : Moh. Zahirul Alim,
Alumni Pengajar Muda XV Kabupaten Natuna

 
Seperti gelisah saat melihat masalah di depan mata tidak kunjung selesai, tulisan ini tercipta atas kegelisahan hati melihat problema menahun yang jamak menimpa anak-anak bangsa di ujung negeri. Resah melihat mereka tidak seberuntung anak-anak yang ada di perkotaan, bisa menikmati akses dan layanan pendidikan yang bermutu. Dididik oleh tenaga pendidik yang berkapasitas, sementara mereka sebaliknya. Jangankan menikmati akses pendidikan berkualitas, listrik saja belum masuk ke pulau tempat mereka hidup. Saya bersyukur pernah diberi amanah oleh Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar membersamai anak-anak bangsa di pinggiran utara Indonesia, tepatnya di SDN 005 Pulau Kerdau, Kecamatan Subi, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Hanya satu tahun waktu yang diberikan kepada saya untuk memainkan peran sebagai guru/pengajar bagi anak-anak di sekolah saya bertugas. Namun begitu, saya puas bisa mengobati kegundahan hati yang sekian lama terpendam dengan ikut ambil bagian menyelesaikan sedikit banyak tumpukan persoalan ketimpangan pendidikan Indonesia.

Durasi setahun yang cukup singkat itu saya gunakan untuk merawat langsung pendidikan anak-anak sekolah dasar yang ada di perbatasan. Merawat mereka adalah kebahagiaan, dikatakan demikian karena hanya dengan cara berbagi inilah kita bisa turut serta melunasi janji kebangsaan yang terlanjur kita ikrarkan saat negara Indonesia sepakat dilahirkan: menjadikan semua yang hidup di dalamnya cerdas dan berkemajuan.

Faktanya, sampai detik ini kesenjangan mutu pendidikan antar daerah di Indonesia masih terjadi. Mutu pendidikan anak-anak di perbatasan, di pulau-pulau terpencil tidak seideal dengan mutu pendidikan anak-anak yang ada di Pulau Jawa di mana semua peralatan dan perlengkapan penunjang pendidikan serba ada dan berkecukupan. Karena itulah perjalanan selama satu tahun (Desember 2017-Desember 2018) kemarin benar-benar saya manfaatkan untuk menumpahkan semua keresahan diri menjadi sesuatu yang riil yang bisa dinikmati oleh anak-anak bangsa yang kurang beruntung tersebut. Bagaimana wujudnya?

Selama setahun perjalanan saya menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar yang dikirim jauh-jauh dari Jakarta ke pulau terpencil bernama Kerdau, sebuah pulau yang cukup tertinggal di Kabupaten Natuna, saya berupaya sekeras tenaga untuk memberikan apapun yang saya miliki guna mengakselerasi kemajuan pendidikan di pulau tersebut. Saya menerapkan edukasi terapan yang saya yakini akan ampuh mengatasi ketertinggalan yang ada. Ide edukasi terapan tercetus karena yang saya perhatikan praktik pendidikan di pulau tersebut ternyata hanya puas sampai di tataran teori/pengetahuan alias di permukaan saja. Guru-guru enggan bereksperimen, kurang berinisiatif mengajak dan memberikan anak-anak media guna berlatih dan mengembangkan diri secara lebih mendalam dari apa yang mereka dapatkan di dalam kelas. Karena itulah saya mengambil langkah korektif, membuat terobosan-terobosan konstruktif guna merangsang anak-anak bisa berkembang sebagaimana anak-anak yang ada di perkotaan.

Saya menggunakan metode mengajar fun learning dan participatory, yaitu mengajar dengan cara yang menyenangkan melalui metode-metode kreatif sekaligus menjadikan anak sebagai subyek dalam setiap pembelajaran. Mengingat anak-anak yang saya didik mayoritas adalah anak-anak dengan kecerdasan naturalis di atas rata-rata maka saya juga menggunakan pendekatan naturalis, seperti belajar di alam terbuka, praktik langsung mengamati alam sekitar serta menjadikannya sebagai sahabat terdekat. Saya juga mengenalkan kepada anak-anak kecerdasan naturalis lain selain kecerdasan maritim yang sudah tentu sebagai anak pulau mayoritas mereka sudah memilikinya. Adalah kecerdasan botani, yaitu kecerdasan menanam. Saya ajarkan ajarkan anak-anak untuk menanam sayur, saya beri mereka polibag dan benih untuk ditanam bersama-sama. Saya dampingi mereka.

Saya mencoba untuk membuka paradigma berpikir mereka yang selama ini terlanjur menganggap bahwa tanah pulau yang berpasir itu tidak bisa ditumbuhi oleh sayuran dengan praktik langsung guna membuktikan bahwa anggapan tersebut tidaklah benar. Hal ini terjadi karena mereka tidak tahu ada teknik khusus untuk menjadikan tanah pulau yang berpasir itu bisa ditanami sayuran, yaitu tanah yang berpasir dibakar terlebih dahulu. Untuk itulah saya berikan contoh nyata, sampah-sampah yang saya miliki saya kumpulkan untuk dibakar di samping tempat tinggal saya, tidak dibuang ke laut. Dengan begitu semua mata bisa melihat apa yang saya praktikkan dengan harapan bisa ditiru, tidak ada lagi yang membuang sampah ke laut.

Dan tanah hasil bakar itulah yang saya jadikan sebagai bahan untuk menanam. Walhasil, benih yang kita semai bersama menggunakan tanah bakar tersebut tumbuh subur. Hal ini saya maksudkan untuk mengedukasi anak-anak dan warga pulau terkait pentingnya kita peduli dengan laut, peduli dengan alam. Bahwa keamanan laut Indonesia dewasa ini dalam kondisi terancam akibat tumpukan sampah yang dibuang dengan sengaja oleh manusia. Saya tidak lupa menyampaikan bahwa jika kita terus biarkan kebiasaan buruk di atas terus terjadi bukan tidak mungkin sumber nafkah masyarakat pulau yang notabene berasal dari laut berupa ikan dan sejenisnya juga akan terancam.

Selain itu, dalam konteks edukasi terapan pula saya juga mewujudkan misi pembangunan karakter dan literasi. Bagi saya, mengajar anak SD tidak perlu aneh-aneh, anak-anak usia sekolah dasar mutlak membutuhkan pembangunan karakter dan literasi sebagai pondasi mereka mengenyam pendidikan tingkat menengah, atas, perguruan tinggi, serta pondasi mengarungi kehidupan. Jika pondasi ini kuat, maka bangunan pendidikan berikutnya akan semakin kokoh. Bagaimana wujud pembangunan karakter dan literasi yang saya implementasikan? Wujudnya adalah kesepakatan bersama yang diterima oleh semua pihak. Sebelum pukul 07.00 WIB saya wajibkan diri saya dan anak murid sudah berada di dalam perpustakaan. Untuk apa? Untuk membaca selama 15 menit bahan-bahan bacaan yang ada di dalam perpustakaan sekolah.

Anak-anak bebas memilih bahan bacaan. Jika hal ini dilanggar tentu ada konsekuensi yang harus ditanggung sesuai kesepakatan berupa pemberian sanksi edukatif yang bisa dipilih sendiri oleh siapapun yang melanggar. Selain ada punishment, setiap bulan saya juga memberikan reward yang diperuntukkan bagi anak-anak yang terdata rajin membaca, gemar meminjam buku perpustakaan sekolah. Hal ini rutin saya terapkan untuk melatih karakter disiplin dan rajin anak-anak dan untuk melatih mereka terbiasa membaca, harapannya adalah mereka bisa kecanduan membaca. Saya meyakini, jika budaya literasi ini mendarah daging, tradisi membaca menjadi kebutuhan maka akan lahir peradaban baru yang bisa mengangkat derajat kehidupan anak-anak pulau. Dari yang selama ini hanya puas menjadi anak nelayan, puas menjadi anak pulau, kita harapkan bisa menjadi anak-anak berprestasi yang membanggakan.

Bicara tentang prestasi, saya pernah juga mengenalkan dan membimbing anak murid saya untuk mengikuti seleksi Beasiswa Smart Ekselensia, sebuah program beasiswa dari Yayasan Dompet Dhuafa yang diperuntukkan bagi anak-anak Sekolah Dasar yang akan lulus dari kalangan kurang mampu untuk mengenyam pendidikan gratis berkualitas dari bangku SMP sampai perguruan tinggi. Dari tiga murid saya yang mengikuti seleksi administrasi, dua dinyatakan lolos dan diundang untuk mengikuti seleksi bidang studi.

Dan dari dua orang yang mengikuti seleksi bidang studi, satu orang dinyatakan lolos serta diundang ke Batam untuk mengikuti seleksi akhir berupa psikotes dan wawancara. Sayangnya, perjuangan murid saya harus kandas tanpa bertanding karena saat akan mengikuti seleksi akhir di Batam di mana semua akomodasi dan transportasi ditanggung pihak panitia tiba-tiba orangtua murid bersangkutan tidak merestui alias keberatan melepas sang anak. Alhasil, peluang beasiswa yang sudah ada di depan mata hilang begitu saja. Namun demikian, ada hikmah besar di balik kejadian ini, anak-anak, orangtua dan masyarakat sekitar bisa tersadarkan. Pola pikir mereka selama ini menganggap bahwa untuk lanjut sekolah tidaklah mudah, harus kaya, harus punya banyak modal uang.

Anggapan tersebut tidaklah benar, apa yang dialami salah satu anak didik saya adalah bukti nyata bahwa siapa yang berikhtiar sekalipun tidak kaya bisa berprestasi. Dari kejadian tersebut, masyarakat mulai menyadari bahwa kunci untuk meraih sukses bukan semata soal modal uang, namun yang paling pokok adalah modal kerja keras, prestasi, dan juga doa.

Tidak sedikit warga yang bercerita kepada saya, mengatakan: “Pak, kalau saya ada di posisi orangtua Hamid (murid saya yang nyaris mendapatkan beasiswa) saya tidak akan berpikir dua kali, saya akan izinkan dia berangkat,” begitulah kira-kira curahan hati warga sekitar menanggapi keputusan orangtua salah satu murid saya yang membuang percuma kesempatan langka anaknya bisa memperoleh beasiswa.

Terkait pembangunan karakter, saya juga pernah mengusulkan kepada pihak sekolah untuk mengadakan Kantin Karakter satu kali dalam seminggu. Alhamdulillah usul ini akhirnya diterima meski di awal mengalami dinamika penolakan karena khawatir kantin akan merugi dan sebagainya. Saya sampaikan bahwa anak-anak butuh media untuk berlatih, mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bab Kejujuran jangan hanya puas masuk di kepala anak. Namun juga perlu dilanjutkan dengan praktik nyata sehari-hari. Indonesia saat ini sedang darurat korupsi, karena itu pendidikan karakter mutlak diperlukan untuk mempersiapkan mental anak-anak yang kelak akan melanjutkan perjalanan bangsa dan negara. Kantin Karakter hanyalah sebuah wadah bagi anak melatih dirinya, berani jujur tidak berbelanja tanpa dijaga.

Pada praktiknya, anak-anak dibebaskan untuk berbelanja, mengambil sendiri uang kembalian di kantin sekolah tanpa ada yang mengawasi. Hasilnya, keraguan akan ide Kantin Karakter tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya tidak terbukti. Anak-anak bisa berbelanja mandiri, kekhawatiran akan ada yang curang dan membuat kantin bangkrut juga tidak terbukti. Dari media latihan ini diharapkan anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi-pribadi hebat yang berkarakter dan berintegritas tinggi.

Beginilah kiranya cara saya merawat Indonesia, negeri yang akan selalu saya cintai. Setahun hidup bersama mereka terlalu singkat untuk dijalani, namun setahun yang singkat itu menjadi sangat mujarab untuk berbuat sesuatu bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Kini keresahan saya sedikit banyak sudah terobati, meski hanya setahun semoga saja bisa berdampak positif bagi anak-anak bangsa dan masyarakat di mana saya pernah bersama mereka.

Di tengah badai hoaks, fitnah, caci maki, dan hal-hal tidak beradab lainnya yang akhir-akhir ini melanda Indonesia, mari kita lawan dengan melakukan langkah konkret ikut membangun pendidikan Indonesia seutuhnya agar generasi mendatang tidak bermental picik, barbar, dan eksklusif. Bukankah esensi pendidikan adalah terciptanya anak-anak didik yang berkarakter, berpengetahuan luas, dan berjiwa inklusif?

Baca juga :

    Top