Kisah Pilu Ranat Mulia Pardede yang Divonis Bebas

Ranat Mulia Pardede (tengah bertopi).

Ranat Mulia Pardede (tengah bertopi).

Tanjungpinang, LintasKepri.com – Caleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dapil Tanjungpinang Barat-Kota Ranat Mulia Pardede yang sempat dituding melakukan tindak pidana Pemilu oleh Bawaslu setempat ternyata menyimpan kisah pilu selama proses hukum berjalan.

Dirinya yang merupakan dosen dilaporkan oleh seorang mahasiswanya karena dinilai melakukan kampanye di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pembangunan yang kemudian ditindaklanjuti oleh Bawaslu hingga bergulir ke Pengadilan Negeri Tanjungpinang.

Beristrikan Cristina Sembiring (38), menghasilkan dua buah hati bernama Paul Jeconiah (4) dan Joane Alize (6), pada Jumat (11/1/2019) sang ayah dilaporkan ke Bawaslu Tanjungpinang.

Dihari yang sama namun tanggal berbeda yakni (8/3/2019) malam, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjungpinang memvonis bebas Caleg DPRD Tanjungpinang ini.

Hakim menganggap Ranat Mulia Pardede tidak terbukti secara sah melakukan pelanggaran kampanye di tempat pendidikan pada Senin (7/1/2019) malam saat itu.

Ranat Mulia Pardede menceritakan, dirinya dan istri tercinta yang juga anggota PSI memiliki beban psikologis berat saat itu.

Pikiran dan materi terkuras pada masalah yang dihadapi sehingga kondisi keluarganya tak terurus lagi semenjak kasus bergulir di meja hijau.

Si buah hati mereka terabaikan begitu saja di kediamannya Jalan Borobudur Nomor 5, RT 05/RW 06 Kampung Baru, Kelurahan Bukit Cermin, Kecamatan Tanjungpinang Barat, Kota Tanjungpinang.

Paul Jeconiah dan Joane Alize tidak terurus mulai dari makan, pakaian hingga aktivitas sekolah si kakak.

“Saya merasa dizolimi, waktu saya sama keluarga tak ada, waktu untuk jaga anak juga tak ada,” ucap Ranat Mulia Pardede sembari meneteskan air mata saat didampingi Heriyanto selaku Kuasa Hukum di Sekretariat PSI Jalan Raja Haji Fisabilillah Kilometer 8 atas Kota Tanjungpinang, Minggu (10/3/2019).

Selama menjalani proses perkara dimaksud, ternyata masih ada seorang anak muda bernama Jimmy Jimrong yang memberikan dukungan moril yakni menjaga kedua anaknya mulai pagi hingga malam hari dengan memberikan makanan kepada Paul Jeconiah dan Joane Alize pada waktu makan tiba.

“Anak ini seperti babysitter anakku. Dia punya niat tulus untuk memberikan makan, memandikan anakku maupun mencebok mereka selama ini,” tuturnya terharu.

“Bukan cuma Jimmy tapi kerabat maupun tetangga rumah juga datang ke rumah untuk memberikan dukungan kepada kami,” tambah Ranat Mulia Pardede.

Selain kondisi tersebut, mata pencaharian juga berdampak negatif kepada Ranat Mulia Pardede.

Selaku dosen, dirinya dijustifikasi oleh pihak Kampus STIE Pembangunan berupa pengurangan mata kuliah untuk mengajar kepada mahasiswa-mahasiswi.

Penghasilan rumah tangga Ranat Mulia Pardede pun berkurang. Dampak sosial juga timbul pada kasus itu baik diri sendiri maupun partai.

“Di kampus saya hanya boleh mengajar 2 kelas sekarang, sebelumnya 6 kelas. Ini merupakan mata pencaharian saya,” katanya.

Ranat Mulia Pardede mengharapkan agar kasus serupa jangan terjadi lagi di Kota Tanjungpinang. Sebab, hal itu akan menjadi citra buruk baik Bawaslu, KPU dan partai atau peserta Pemilu.

“Jangan lagi terjadi. Politik itu kejam,” ungkapnya.

Ranat Mulia Pardede meminta kepada pelapor yang juga seorang mahasiswa STIE Pembangunan untuk segera menjumpainya. Jika tidak maka Ranat akan melakukan upaya hukum.

“Saya minta dia ketemu saya di rumah sebelum Rabu (13/3/2019),” imbuhnya.

Heriyanto, selaku Penasehat Hukum menambahkan, untuk penyelenggara Pemilu harus bijak dalam menentukan keputusan suatu perkara. Sehingga dikemudian hari tidak menimbulkan dampak negatif.

“Bayangkan, Ranat Mulia Pardede harus bolak balik mulai proses laporan di Kantor Bawaslu Tanjungpinang hingga sidang dan putusan di Pengadilan Negeri Tanjungpinang,” kata dia.

Heriyanto berpesan hati-hati memberikan kewenangan (kebijakan) atau membuat laporan.

“Bayangkan dampak keseharian Ranat Mulia Pardede sampai tidak memikirkan nasib keluarga lagi,” tutupnya.

(Iskandar/msn)

Baca juga :

Top