Lintaskepri.com, Anambas –
Lintaskepri.com, Anambas – Kelompok pengrajin Batik Mangrove Genting Pulur binaan Harbour Energy laksanakan Workshop Teknis Membatik dengan pewarna alami yang bertempat di Desa Genting Pulur, Kecamatan Jemaja Timur Kabupaten Kepulauan Anambas. Yang mana kegiatan ini menjadi salah satu bentuk upaya nyata dalam mengembangkan potensi lokal berbasis konservasi lingkungan sekaligus pelestarian budaya, khususnya pemanfaatan mangrove sebagai sumber pewarna alami batik.
Workshop diawali dengan pembukaan resmi dan doa bersama serta dilanjutkan dengan penyampaian materi teknis proses membatik menggunakan pewarna alami mangrove yang diikuti oleh para pelajar dari SMA Negeri 1 Jemaja dan SMK Negeri 3 Anambas, yang menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Syahrul Hidayat, S.Tr.Pi selaku Ketua Komunitas Konservasi Mangrove, Penyu, Alam dan Karang (KOMPAK) sekaligus Pelaksana Program Batik Mangrove dalam sambutannya menyampaikan bahwa Program membatik dari bahan alami buah bakau atau mangrove ini merupakan program dari Harbour Energy, dan kegiatan workshop ini merupakan bagian dari edukasi lingkungan yang bertujuan untuk menanamkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga ekosistem mangrove.
“Mangrove tidak hanya berfungsi sebagai pelindung pesisir dan habitat biota laut, tetapi juga memiliki nilai ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Melalui batik mangrove, masyarakat dapat memanfaatkan hasil alam tanpa merusak lingkungan, sekaligus menciptakan produk bernilai budaya dan ekonomi.” ujar Syahrul.
Sementara itu, Abdul Rahman,S.Pi selaku Kepala Desa Genting Pulur dalam pidatonya mengungkapkan rasa bangga dan apresiasi atas terselenggaranya workshop teknis membatik pewarna alami di desanya.
“Kegiatan ini sangat sejalan dengan visi Desa Genting Pulur dalam mengembangkan potensi desa berbasis sumber daya alam lokal yang ramah lingkungan. Batik mangrove merupakan identitas baru desa yang perlu terus dikembangkan dan diperkenalkan kepada masyarakat luas, dan kita berharap kegiatan seperti ini dapat berkelanjutan dan melibatkan lebih banyak masyarakat desa, khususnya generasi muda, agar tercipta kemandirian ekonomi desa yang tetap menjaga kelestarian alam.” ujar Rahman.
Camat Jemaja Timur, Tetti Amalia,S.E. dalam arahannya menyampaikan dukungan penuh dari pihak kecamatan terhadap kegiatan-kegiatan yang mengintegrasikan pendidikan, lingkungan, dan ekonomi kreatif.
“Kolaborasi antara komunitas konservasi, pemerintah desa, sekolah, dan pemerintah kecamatan merupakan kunci keberhasilan pembangunan berkelanjutan. Seperti halnya keterlibatan pelajar SMA dan SMK yang sangat strategis dalam menyiapkan generasi muda yang peduli lingkungan, kreatif, dan berdaya saing. Haralan kita workshop ini dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di wilayah Jemaja Timur.” ujar Tetti.
Dengan pendampingan langsung dari fasilitator, para pelajar tampak antusias mempraktikkan proses membatik secara langsung. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga melatih kreativitas, kesabaran, dan keterampilan peserta.
Selanjutnya kegiatan Workshop Teknis Membatik Pewarna Alami ini diakhiri dengan sesi foto bersama, diskusi dan refleksi dengan harapan mampu memberikan dampak positif bagi pelestarian lingkungan, penguatan identitas lokal, serta peningkatan kapasitas generasi muda dalam mengembangkan potensi ekonomi kreatif berbasis konservasi.(*)






