Jelang Ramadhan Sayur di Natuna Banjir, Petani Ini Merugi

Solihin saat menunjukkan tanaman timunnya yang banyak menua, akibat tidak laku dijual.

Solihin saat menunjukkan buah timunnya yang banyak menua, akibat tidak laku dijual.

Natuna, LintasKepri.com – Solihin (34), salah seorang petani sayuran asal daerah Batu Hitam, Kelurahan Ranai, Kabupaten Natuna ini, mengaku bangkrut. Pasalnya, tanaman sayuran yang ia tanam, sama sekali tidak laku dijual.

“Sayuran di Pasar Ranai banjir mas, sehingga sayuran saya nggak laku dijual,” keluh Solihin kepada LintasKepri.com, Rabu (09/05/2018) petang.

Lelaki asal Lampung itu mengatakan, banjirnya sayuran lantaran banyak para petani di Natuna yang menanam jenis sayuran yang sama, menjelang masuknya bulan suci Ramadhan 1439 hijriyah (2018).

Solihin tampak tengah memetik buah mentimun miliknya, yang sudah banyak menua.

Solihin tampak tengah memetik buah mentimun miliknya, yang sudah banyak menua.

Ia juga mengaku sudah menjajakan sayurannya ke Pasar Tradisional Ranai, namun banyak pedagang yang menolak hasil panenannya.

“Sudah saya tawar-tawarkan sama penjual di pasar, tapi mereka bilang sudah punya banyak sayuran, sehingga saya bawa pulang lagi,” ungkapnya dengan wajah memelas.

Padahal kata Solihin, harga sayur yang ditawarkannya sudah sangat murah, bahkan jika laku sekalipun, tidak akan mampu mengembalikan modal tanamnya.

Dikatakannya, harga kacang panjang miliknya hanya ia hargai sebesar Rp 2 ribu, timun Rp 3 ribu dan gambas Rp 8 ribu. Padahal harga normal dipasaran, harga kacang panjang mencapai Rp 6 ribu, timun Rp 8 ribu dan gambas mencapai Rp 15 ribu.

“Padahal sudah saya jual sangat murah itu, jauh dengan harga pasar, namun masih saja nggak laku,” katanya terheran-heran.

Akibatnya, buah sayur berupa kacang panjang dan mentimun miliknya banyak yang menua di batang, karena tak terpanen.

“Saya kasihkan saja ke tetangga-tetangga,” katanya.

Kerugian yang dialami Solihin atas banjirnya stock sayuran di pasar Ranai, mencapai jutaan rupiah.

“Modalnya banyak mas, beli bibitnya, pupuknya, pestisidanya, obat rumputnya dan lain-lain, kalo satu juta, ya lebih,” kata Solihin.

Demi untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari bersama keluarganya, bapak satu orang anak inipun akhirnya memilih untuk meninggalkan profesinya sebagai petani, dan sementara waktu ini dia bekerja sebagai buruh serabutan.

“Sementara ini saya tinggal kerja bangunan dulu. Kalau nggak gitu mau makan apa, rumah aja masih ngontrak. Apa lagi puasa sudah dekat,” tutup Solihin.

Laporan : Erwin Prasetio

Baca juga :

Top