Hingga Juli Inflasi Di Tanjungpinang Capai 2,08 Persen

Pemko Tpi
Riono, Sekdako Tanjungpinang
Riono, Sekdako Tanjungpinang saat memimpin rapat koordinasi rutin Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Tanjungpinang, (25/8).

Tanjungpinang, LintasKepri.com – Sekretaris Daerah Kota Tanjungpinang, Riono, mengatakan hingga Juli 2015, angka inflasi di Kota Tanjungpinang mencapai 2.08 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari rata-rata Nasional yakni sebesar 1.90 persen. Hal tersebut disampaikan Sekda saat memimpin langsung rapat koordinasi rutin Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Tanjungpinang, Selasa (25/8) di ruang rapat Kantor Walikota Tanjungpinang.

Riono menganggap hal tersebut wajar. Mengingat momen puasa dan lebaran baru saja dilewati. “Kenaikan angka inflasi yang cukup tinggi ini karena faktor situasional saja. Karena momennya pas setelah puasa dan lebaran,” katanya.

Dia mengatakan, isu nasional yang sedang terjadi dibeberapa daerah di Indonesia disebabkan minimnya pasokan daging sapi dan ayam. “Untuk Kota Tanjungpinang sendiri isu tersebut tidak menjadi ancaman. Karena memang bukan daerah produsen. Artinya, semua bahan kebutuhan pokok didatangkan dari luar,“ ungkapnya.

Namun, kata Riono, walaupun Kota Tanjungpinang bukan daerah produsen, langkah-langkah antisipasi harus tetap dilakukan untuk mengendalikan inflasi. Minimal kita bisa memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Caranya dengan menanam sendiri tanaman-tanaman seperti cabe, tomat, terong dan lain sebagainya.

“Manfaatkan halaman rumah sendiri,” singkatnya.

Rapat koordinasi rutin Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Tanjungpinang,  (25/8)
Rapat koordinasi rutin Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Tanjungpinang, (25/8)

Diakhir penyampaian penutupnya, Pemerintah Kota Tanjungpinang tentunya sangat mendukung kebijakan tersebut dengan memberikan bantuan bibit melaui dinas terkait. Sebelum dilakukan, Riono menyarankan dinas terkait agar melakukan mapping sesuai dengan kondisi dilapangan seperti berapa banyak KK yang akan dijadikan percontohan, berapa banyak bibit yang harus disediakan dan kondisi alam yang sesuai untuk ditanami.

“Disaat harga cabe sedang tinggi, minimal masyarakat punya kebun sendiri yang bisa dipanen. Tujuannya, membantu mengurangi pengeluaran harian,” katanya.

Menurut perwakilan BPS Kota Tanjungpinang yang turut hadir dalam rapat menyebutkan, lonjakan harga yang terjadi saat puasa dan menjelang lebaran bukanlah karena kurangnya pasokan bahan pangan, melainkan tuntutan psikologis para pedagang. Dari hasil pantauan BPS dilapangan, para penjual sengaja menaikkan harga kebutuhan bahan pangan karena tingginya permintaan barang dari para konsumen. Kondisi tersebut dimanfaatkan pedagang untuk meraih keuntungan yang lebih besar dibanding hari biasa.

Sementara, dari catatan Bulog Kota Tanjungpinang sendiri, masih menyimpan stok beras hingga 800 Ton. Angka ini mampu memenuhi kebutuhan bahan pokok masyarakat di Tanjungpinang hingga 3 bulan kedepan.(Hum/Red)