Dampak Karhutla, Kabut Asap Selimuti Langit Natuna

Tampak kabut asap menghiasi langit di Daerah Pian Padang, Desa Cemaga Selatan, Kecamatan Bunguran Selatan.

Tampak kabut asap menghiasi langit di Daerah Pian Padang, Desa Cemaga Selatan, Kecamatan Bunguran Selatan.

Natuna, LintasKepri.com – Asap tebal menyelimuti sebagian wilayah di Pulau Bunguran Besar, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Sabtu (23/03/2019) pagi.

Kabut asap ini, diduga lantaran adanya peristiwa Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), yang melanda sebagaian wilayah di Kabupaten Natuna beberapa hari terakhir.

“Pasti gara-gara adanya kebakaran hutan ini, makanya terjadi kabut asap,” ujar Ana, salah seorang warga.

Dengan adanya kabut asap ini, jarak pandang hanya berkisar antara 50 hingga 100 meter.

Tampak pengendara sepeda motor menutup hidung dan mulutnya, akibat adanya kabut asap.

Tampak pengendara sepeda motor menutup hidung dan mulutnya, akibat adanya kabut asap.

Hal ini lantas membuat para pengendara bermotor, baik roda empat maupun roda dua, harus ekstra hati-hati. Lantaran jarak pandang mereka terbatas.

Selain itu, kabut asap juga mengganggu aktifitas warga diluar rumah. Pasalnya, mereka harus menggunakan masker, agar tidak mengalami sesak nafas, akibat menghirup udara yang telah bercampur polusi.

Meski demikian, sebagian besar warga tampaknya tidak terlalu memperdulikan dampak dari kabut asap tersebut, karena masih banyak warga yang tidak menggunakan masker saat beraktifitas diluar rumah. Terutama bagi para pengendara sepeda motor, yang melintasi kawasan terjadinya kabut asap.

Salah satu lahan yang hangus terbakar.

Salah satu lahan yang hangus terbakar.

Pantauan media ini dilapangan, kabut asap ini melanda ke sebagian besar wilayah di Pulau Bunguran Besar. Yaitu di Kecamatan Bunguran Tengah, Kecamatan Bunguran Timur dan Kecamatan Bunguran Selatan.

Seperti diketahui, beberapa hari terakhir ini memang acap kali terjadi Karhutla, akibat musim kemarau berkepanjangan.

Dihimbau kepada warga, agar tidak membakar lahan selama musim kemarau. Untuk menghindari Karhutla yang semakin meluas.

Laporan : Erwin Prasetio

Baca juga :

    Top