Ayo ke Natuna, Ada Wisata Mangrove Unik yang Layak Dikunjungi

img-20181230-wa0007

Natuna, LintasKepri.com – Berbicara mengenai tempat Wisata unik di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), memang tidak akan pernah ada habisnya.

Pasalnya, Kabupaten yang terletak di Laut Natuna Utara tersebut, memiliki sederet lokasi wisata yang unik dan menarik, yang layak untuk dikunjungi oleh para pelancong.

Dari mulai wisata alam seperti pantai, alam bawah laut, pulau, gunung, bukit, hutan, sungai, air terjun, bebatuan dan mangrove (bakau), tersaji semua di daerah berjuluk Mutiara Diujung Utara tersebut.

img-20181230-wa0006

Belum lama ini, Natuna kembali dikejutkan dengan munculnya wisata unik diatas sungai. Wisata ini hanya berbentuk pelantar yang terbuat dari kayu, yang menyusuri hutan mangrove (bakau). Meski tampak sederhana, namun wisata alam ini, mampu menghipnotis para pengunjungnya, terutama bagi mereka yang lagi kecanduan foto selfie maupun ngevlog.

Ya, wisata alam hutan mangrove tersebut, terletak di Desa Pengadah, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna. Wisata tersebut dikembangkan oleh Pemerintah Desa setempat, dengan memanfaatkan anggaran Dana Desa (DD) tahun 2018, yang mencapai Rp 110.630.525.

Pelantar kayu tersebut, saat ini baru dibangun dengan panjang 100 meter, dengan lebar 2,5 meter. Ditambah dengan pagar pembatas setinggi kurang lebih 1,2 meter.

img-20181230-wa0005

Meski baru berjalan sekitar satu tahun, namun wisata yang terletak persis dibawah jembatan besar Desa Pengadah ini, sudah berhasil menyedot para wisatawan lokal untuk berkunjung. Bahkan, wisatawan dari luar daerah pun, sudah pernah menapakkan kakinya di pelantar tersebut.

“Cukup unik ya, dan masih sangat alami. Tapi bagus kok,” ujar Nur Aini, wisatawan asal Kota Tanjungpinang, Kepri, saat ditemui di Pengadah belum lama ini.

Meski menghabiskan biaya ratusan juta untuk membangun wisata alam tersebut, namun pihak pengelola tidak memungut biaya masuk sepeserpun bagi para pengunjung, alias gratis.

img-20181230-wa0004

Hanya saja, pihak pengelola menghimbau agar para pengunjung selalu menjaga kebersihan, dengan tidak mencorat-coret pagar dan pelantar jembatan, serta tidak membuang sampah ke sungai.

Disetiap sudut pelantar, pihak pengelola juga memasang berbagai himbauan yang terbuat dari potongan kayu, bagi para pengunjungnya. Salah satunya adalah larangan menebang mangrove sembarangan, yang dapat dikenakan pidana.

Lokasi wisata ini sangat mudah sekali dijangkau. Dari pusat Kota Ranai, perjalanan bisa ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit, menggunakan kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat.

Munculnya wisata alam hutan mangrove ini, adalah bukti bahwa masyarakat di Pedesaan Natuna, sudah mulai sadar untuk mengembangkan wilayahnya, dengan membuat Desa Wisata. Memang beberapa tahun terakhir ini, Desa Wisata menjadi tren baru untuk meramaikan sektor perpariwisataan di Indonesia.

Laporan : Erwin Prasetio

Baca juga :

    Top