Anak Setungkuk Pertaruhkan Nyawa Saat Pergi Sekolah, Ini Alasannya

Jembatan inilah yang menjadi akses utama warga Kampung Setungkuk untuk menuju Kampung Tanjung Sebauk, termasuk anak sekolah.

Jembatan inilah yang menjadi akses utama warga Kampung Setungkuk untuk menuju Kampung Tanjung Sebauk, termasuk anak sekolah.

Natuna, LintasKepri.com – Para anak-anak yang tinggal di Kampung Setungkuk, Desa Sedanau Timur, Kecamatan Bunguran Batubi, Kabupaten Natuna, harus rela mempertaruhkan nyawanya, saat ingin pergi dan pulang dari sekolah.

Pasalnya, siswa siswi asal Kampung Setungkuk, mulai dari SD, SLTP dan SLTA, harus melewati jembatan kayu yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan, untuk menuju ke sekolah, yang berada di Kampung Tanjung Sebauk, Desa Sedanau Timur.

Betapa tidak, jembatan sepanjang kurang lebih 800 meter itu, sudah berusia sekitar 30 tahun. Bahkan sebagian pelantarnya, sudah banyak yang lapuk termakan usia. Padahal, jembatan ini merupakan akses utama dan satu-satunya, untuk menghubungkan antara Kampung Setungkuk dan Kampung Tanjung Sebauk.

Tak hayal, jika keselamatan warga dari dan ke kampung yang berpenduduk sekitar 20 kepala keluarga (KK) tersebut, selalu terancam.

Warga Setungkuk tampak melakukan gotong royong memperbaiki pelantar jembatan.

Warga Setungkuk tampak melakukan gotong royong memperbaiki pelantar jembatan.

Dijelaskan Edi, pada tahun 2017 lalu, pihaknya sudah pernah melayangkan proposal ke Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Kepri, agar jembatan tersebut segera direnovasi atau dibangun ulang secara permanen. Namun kenyataannya hingga sampai detik ini, hasilnya masih nihil.

“Bahkan tim dari Dinas PU Provinsi sempat turun langsung kelapangan dan mengukur jembatan tersebut, sebagai perencanaan awal pembangunan. Kami pun sempat membuat berita acara bersama mereka, untuk diteruskan ke Gubernur,” terang Edi.

Meski kondisinya sangat miris dan membahayakan para pengguna jalan, namun jembatan penghubung antar kedua kampung disebelah barat pulau Bunguran tersebut, masih terus dimanfaatkan oleh warga setempat.

“Karena tidak ada jalan lain Pak, hanya itu satu-satunya akses penghubung antara Setungkuk dan Tanjung Sebauk,” ucapnya.

Kata Edi, di Kampung Setungkuk sama sekali tidak tersedia sarana dan prasarana umum bagi penduduknya. Baik fasilitas kesehatan, pendidikan maupun fasilitas umum lainnya. Alhasil, jika warga setempat ingin mendapatkan layanan umum, terpaksa harus hijrah ke kampung tetangganya.

Tampak beberapa bagian pelantar jembatan sudah mulai ambruk termakan usia.

Tampak beberapa bagian pelantar jembatan sudah mulai ambruk termakan usia.

“Karena segala fasilitas umumnya ada di Kampung Tanjung Sebauk. Di Kampung Setungkuk sama sekali tidak ada fasilitas umum,” katanya.

Edi bersama warganya mengaku sudah sering menyampaikan permasalahan ini kepada Pemerintah Daerah, melalui aspirasi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten maupun Provinsi. Namun hingga saat ini, belum ada kepastian apapun dari pemangku negeri ini, untuk melakukan perbaikan maupun pembangunan baru jembatan Trans Setungkuk-Tanjung Sebauk, yang siap mengancam keselamatan warga.

“Sebetulnya saya sudah bosan menyampaikan hal ini kepada Pemerintah Daerah maupun Anggota DPRD Natuna. Padahal setiap ada Dewan yang datang, selalu saya ajak melihat kondisi jembatan tersebut. Bahkan Ibu Wakil Bupati pun juga pernah saya ajak kesitu,” bebernya.

Beberapa Anggota Dewan yang pernah meninjau jembatan tersebut, kata Edi, yaitu Wan Sofian dan Sudirman, Anggota DPRD Natuna Dapil III, dan juga Wan Norman Edi, Anggota DPRD Provinsi Dapil Natuna-Anambas.

Untuk memperbaiki bagian pelantar jembatan yang rusak, warga setempat biasa melakukan gotong royong. Namun hasilnya tetap tidak maksimal, karena hanya bertahan beberapa saat saja.

Edi bersama warganya berharap, adanya perhatian dari Pemerintah Daerah Natuna, melalui Instansi terkait, untuk merenovasi maupun membangun ulang jembatan tersebut secara permanen. Supaya tidak lagi mengancam keselamatan warga, terutama para siswa siswi sekolah dari kampung tersebut yang ingin menimba ilmu ke kampung tetangga.

Laporan : Erwin Prasetio

Baca juga :

Top