Tak Pakai Pengawal dan Supir Pribadi, Ini Alasan Sekda Natuna

Sekda Natuna, Wan Siswandi, S.Sos. M.Si.

Sekda Natuna, Wan Siswandi, S.Sos. M.Si.

Natuna, LintasKepri.com – Setiap pejabat tinggi di Pemerintahan sekelas Sektetaris Daerah (Sekda), biasanya selalu difasilitasi beberapa orang pengawal keamanan seperti Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP), Ajudan dan Supir.

Namun tidak untuk Sekda Kabupaten Natuna yang satu ini. Ya, Wan Siswandi, S.Sos. M.Si., pria kelahiran Sungai Ulu itu, memang berbeda dengan Sekda sebelumnya dan beberapa Sekda di daerah lain.

Pasalnya, Sekda dimasa kepemimpinan Drs. H. Abdul Hamid Rizal, M.Si bersama wakilnya Dra. Ngesti Yuni Suprapti. MA. itu, sama sekali tidak memakai seorangpun pengawal, baik anggota Satpol-PP, Ajudan dan Supir pribadi.

Padahal, beberapa orang pengawal dan supir tersebut, merupakan salah satu kelengkapan jabatan seorang Sekda, yang nota benenya adalah orang nomor tiga disebuah Pemerintahan Daerah ditingkat Kabupaten.

“Tak ada gunanya juga pakai Satpol-PP, orang yang datang juga saudara dan keluarga kita semua, bukan orang yang aneh-aneh. Padahal pintu gerbang rumah saya selalu terbuka, tapi sampai saat ini aman-aman saja,” ungkap Wan Siswandi kepada LintasKepri.com dikantornya, belum lama ini.

Bagi Siswandi, jabatan tersebut merupakan sebuah amanah yang harus dijaga dan dijalankan sebaik mungkin, serta akan berakhir pada waktunya.

Kendati demikian, ia mengaku tidak mengecilkan sebuah jabatan yang saat ini disandangnya.

“Bukan Sekda atau Bupatinya yang dipandang oleh Allah, tapi adalah amal ibadahnya. Jabatan itu paling lama cuma 5 tahun, habis itu selesai. Yang terpenting itu adalah jalani tugas ini dengan baik, dekatkan diri pada Tuhan yang maha esa, bukan Satpolnya. Satpol berjajar sekalipun, kalau kita malas masuk kantor apa gunanya,” ujar lelaki yang murah senyum tersebut.

Selain menghemat anggaran, Mantan Kadishub Natuna dan Kades Sepempang itu menambahkan, dengan tidak adanya pengawal dan supir pribadi, otomatis ia tidak merasa kehilangan saat jabatannya yang sekarang berakhir.

“Kalau kayak gini kan enak, nanti kalau jabatan saya sudah berakhir, saya tidak merasa kehilangan Satpol, Ajudan dan Supir. Satpol itu hanya bagian dari kelengkapan jabatan Sekda, mau dipakai atau tidak, tak ada masalah. Kecuali kewajiban, ya harus kita ikuti. Ini kadang terbalik-balik, yang wajib ditinggalkan, yang sunah justru dikerjakan. Yang biasa-biasa ajalah,” papar Sekda.

Meski demikian, ia tidak melarang para pimpinan OPDnya, seperti Kepala Badan, Dinas, Bagian dan setingkatnya, untuk memakai supir pribadi ketika menjalankan tugas.

Laporan : Erwin Prasetio

Baca juga :

Top