'

Pewarta Bintan Berikan Bantuan Kepada Raisa, Bayi Penderita Atresia Bilier

pewarta bintan

Sejumlah pewarta yang meliput di Kabupaten Bintan memberikan bantuan kepada Raisa, Bayi 9 bulan penderita Atresia Bilier, (30/8).

Bintan, LintasKepri.com – Sejumlah pewarta yang meliput di Kabupaten Bintan memberikan bantuan kepada Raisa, Bayi 9 bulan penderita Atresia Bilier, putri dari Riona (22) dan Siti Nur Cahyani (19), warga jalan Wakatobi, RT/02, RW/01 Kelurahan Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Minggu (30/08).

M. Rofik, seorang wartawan harian di Kepri, mengatakan, bantuan kepada Raisa, berasal dari sumbangan sukarela pewarta yang dikumpulkan dari menyisihkan gaji bulanan.

“Sebagai wartawan kita bukan hanya mengajak pembaca, pemirsa dan pendengar untuk menyumbang, meringankan beban orang lain. Tetapi memberi contoh dengan aksi nyata, dengan adanya wartawan memberikan contoh teladan, diharapkan para pejabat, pemangku kebijakan juga melakukan hal yang sama. Begitu juga dengan para pengusaha di Lagoi, Lobam, Kijang, Tanjungpinang dan Batam, semoga terketuk hatinya untuk menyisihkan sedikit dana kepedulian untuk Raisa,” harap Rofik.

sekarang kondisi Raisa perutnya membesar, sebesar buah kelapa, dibawah perut terdapat benjolan sebesar buah mangga, Bayi cantik mungil itu tidak menangis, walaupun mukanya nampak menahan pedih. Sesekali ia menarik-narik selang  yang dipasang pada lubang hidung kiri dan terhubung ke kerongkongannya.

“Selangnya sering ditarik-tarik, dijadikannya mainan, dari selang inilah ia makan dan minum,” kata Wa Bahra (47), nenek dari Raisa di kediamanya.

Tangannya kurus, seolah tinggal tulang dibalut kulit, kepalanya kecil, kakinyapun kecil. Tidak seperti bayi sehat seusianya.

“Ibu Raisa, Siti Nur Cahyani sedang membeli obat untuk Raisa. Sementara Bapaknya Rio  sedang melaut mencari ikan, karena pekerjaannya buruh nelayan, ikut kapal milik toke,” tutup Wa Bahra.

Atresia bilier Dikutip dari kamus kesehatan

Atresia bilier adalah kondisi bawaan (kongenital) di mana terjadi penyumbatan pada tuba (saluran) yang membawa cairan empedu dari hati ke kandung empedu. Atresia bilier terjadi ketika saluran empedu di dalam atau di luar hati tidak berkembang secara normal.

Saluran empedu membantu mengeluarkan limbah dari hati dan membawa garam yang membantu usus kecil memecah/mencerna lemak. Pada bayi dengan atresia bilier, empedu yang mengalir dari hati ke kandung empedu terhambat. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan hati dan sirosis hati, yang mematikan jika tidak diobati.

Bayi dengan kondisi ini mungkin tampak normal saat lahir. Namun, ikterus (penyakit kuning) berkembang pada minggu kedua atau ketiga kehidupan. Berat badan bayi menurun dan bayi menjadi rewel akibat memburuknya penyakit kuning.(Hendra)

Baca juga :

Top