''

Pemko Tanjungpinang dan PGRI Kompak Maafkan Pencoreng Dunia Pendidikan

Base Camp Cafe di Jalan Raja Ali Haji Kota Tanjungpinang saat Didemo oleh Ormas dan Mahasiswa Kemarin.

Base Camp Cafe di Jalan Raja Ali Haji Kota Tanjungpinang saat Didemo oleh Ormas dan Mahasiswa Kemarin.

Tanjungpinang, LintasKepri.com – Walaupun Base Camp Cafe dinilai telah mencoreng dunia pendidikan, Pemerintah Kota Tanjungpinang berbesar hati memaafkan Santos selaku pemilik Base Camp Cafe. Kabar permohonan maaf itu terhendus setelah pemilik cafe tersebut menemui langsung Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah.

Baca: Dinilai Melecehkan Dunia Pendidikan, PGRI Laporkan Base Camp Café Ke Polisi

Pertemuan berlangsung pada Jumat (7/10) di Kantor Walikota Tanjungpinang, Senggarang, yang dihadiri oleh Sekda Riono, Ketua PGRI Tanjungpinang Encik Abdul Hajar, Disperindag, Kabag Ekonomi dan pihak terkait.

Diketahui sebelumnya, pengelola Base Camp Cafe mengadakan event “Back To School Party” pada Sabtu (1/10) lalu. Event itu berujung Inspeksi Mendadak (sidak) yang dilakukan oleh Sekda Tanjungpinang Riono pada Minggu dinihari (2/10) karena menggunakan atribut sekolah berlogo OSIS. Setelah dilakukan kroscek langsung oleh Sekda, ternyata benar.

Baca: Ketua PGRI Kepri Mengutuk Keras Base Camp Cafe

Dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor Walikota Tanjungpinang, ternyata Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang diwakili oleh Ketua PGRI Kota Tanjungpinang Encik Abdul Hajar juga luluh dengan maaf yang disampaikan oleh pihak Base Camp Cafe.

Hal itu pun diakui oleh Encik Abdul Hajar yang mengatakan bahwa dia mewakili semua guru di Tanjungpinang telah memaafkan pihak Base Camp Cafe. Hal ini ternyata juga dianggap “Dunia Pendidikan” telah memaafkan Base Camp Cafe yang sedang hangat-hangatnya dan juga telah didemo oleh ormas dan mahasiswa kemarin, bahkan sempat tercetus bahasa pihak Base Camp Cafe mencoreng “Dunia Pendidikan” dan bukanlah “Guru Pendidikan”.

Namun, karena telah meminta maaf kepada pihak PGRI hal itu pun tampaknya dimaklumi dan tidak perlu dibesar-besarkan lagi.

“Tapi, dengan syarat mereka berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan mau bersahabat dengan dunia pendidikan. Makanya, kami sebagai guru mendengar seperti itu merasa tidak perlu dibesar-besarkan lagi dan menerima maaf mereka,” kata Encik Abdul Hajar melalui sambungan seluler saat dihubungi, Sabtu (8/10).

Terkait laporan yang telah dilayangkan pihak PGRI ke pihak Kepolisian dengan tuduhan “Pelecehan Dunia Pendidikan”, kata Encik Abdul Hajar yang juga menjabat Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Tanjungpinang, itu hanyalah laporan dalam bentuk lisan saja, dan belum terlalu serius.

“Laporan kita hanya lisan saja, untuk lebih lanjutnya kita serahkan kepada Kepolisian apakah ada unsur pidana atau tidak,” tegas Encik Abdul Hajar.

Terkait hal ini, Pengamat Pendidikan Senior di Provinsi Kepulauan Riau, Arif Rasakan, memandang kurang efektif jika hanya kata maaf yang diberikan.

“Harusnya, hukum tetap berjalan. Mengingat hal ini telah sampai ke ranah hukum dan tindakan yang dilakukan pihak Base Camp Cafe nyata telah mencoreng dunia pendidikan,” tegasnya.

Sebagai manusia, sambung Arif Rasakan, memaafkan memang sangat bagus, tapi hukum tetap berjalan.

“Hukum juga harus berjalan dong, sudah jelas kok mereka mencoreng dunia pendidikan, mana efek jeranya? kalau begitu semua orang bisa lakukan dan akhirnya tinggal minta maaf saja, selesai perkara,” tegas Arif Rasakan saat dihubungi dihari yang sama.

Arif mengaku kurang setuju dengan Pemko Tanjungpinang dan PGRI Tanjungpinang yang gampang sekali memberikan maaf kepada pihak Base Camp Cafe dan bahkan menghentikan proses hukum.

“Itu jelas salah, ya maaf boleh diterima, tapi hukum nya dong, masa berhenti juga,” tegasnya lagi.

Namun, Arif mengatakan memang tidak bisa berbuat apa-apa jika Pemko dan PGRI telah berkata demikian sebagai wakil Dunia Pendidikan. (Iskandar/Rie)

Baca juga :

Top