''

Kadis Izinkan Gunakan Aula, Oknum Pegawai Perpustakaan Bersikap Arogan Kepada Pelajar

– Oknum Pegawai Perpustakaan Kota Tanjungpinang Mengancam Pelajar

YS Nugraha ketika bersih tegang dengan oknum A pegawai Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Tanjungpinang.

YS Nugraha ketika bersih tegang dengan oknum A pegawai Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Tanjungpinang.

Tanjungpinang, LintasKepri.com – Meski Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Tanjungpinang, Wan Samsi mengizinkan pelajar SMA Negeri 3 menggunakan Aula Bulang Linggi untuk latihan persiapan gawai seni, justru mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari seorang oknum berinisial A.

Kejadian yang menimpa pelajar di sekolah tersebut terjadi pada Kamis (13/4) sore.

“Kami menggunakan aula ini sudah meminta izin kepada Kepala Perpustakaan Wan Samsi, dan beliau mengizinkan. Beliau (Wan Samsi) menyebut aula ini punya rakyat, selagi untuk hal positif pakailah yang penting jaga kebersihan,” kata Pembina Kesenian SMA Negeri 3 Kota Tanjungpinang, YS Nugraha, Jumat, (14/4).

Pembina Kesenian dan Pelajar SMA Negeri 3 ini juga menerima ancaman serta perlakuan kasar yang dilakukan oknum A pegawai Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Tanjungpinang.

“Saat itu, Kamis (13/4), sekitar pukul 17:30 WIB, kami sedang latihan visualisasi dan musikalisasi puisi di aula perpustakaan untuk persiapan gawai seni, lalu ada salah satu oknum pegawai perpustakaan datang dan tiba-tiba saja marah dengan kami. Dia bicara seperti ini sama kami “Woi coba kalian jangan bising-bising ya,” jelas YS Nugraha.

Kalimat itu masih diresponnya secara positif. “Iya bang maaf, namanya juga lagi latihan,” ucap YS Nugraha.

Tanpa diduga, sambung YS Nugraha, oknum A mengancam.

“Tiba-tiba saja mengancam kami dengan mengelurkan kata-kata “bagus-bagus kalian ya, sekali lagi bising aku tendang kalian ya,”. Ucapannya seperti preman,” ungkap YS Nugraha.

Mendengar ancaman itu, dirinya tak terima dan terjadi adu mulut.

“Hingga saya kejar dia keatas dan depan Kabid Pelayanan Perpustakaan saya minta beliau mengklarifikasi ucapannya kepada anak didik saya,” tegas YS Nugraha.

Pada dasarnya ia tidak masalah ditegur kalau memang salah.

“Tapi, tidak perlu pakai ancaman ditendang-tendang segala, kami manusia bukan binatang,” kesal YS Nugraha.

Atas kejadian itu, beberapa pelajar khususnya perempuan menjadi takut dan syok atas perlakuan oknum A.

“Kasihan psikologis pelajar terganggu. Sebentar lagi mau lomba,” katanya.

Sebelumnya, lanjut YS Nugraha, lima hari yang lalu para pelajar juga diusir oleh oknum pegawai perpustakaan. Hanya saja belum diketahui pasti siapa oknum tersebut.

“Informasi ini saya dapatkan dari pelajar, sebab saat itu saya belum sampai ditempat latihan,” tuturnya.

Biasanya, kata YS Nugraha, pelajar melakukan latihan pada malam hari setelah Isya.

“Karena waktu lomba sudah semakin dekat yakni tanggal 19 bulan ini, jadi mulai semalam kami latihan sore hari,” kata dia.

Sementara itu, Desi salah seorang pelajar SMA Negeri 3 menilai petugas perpustakaan seharusnya tak bersikap arogan.

“Kok kayak gitu ya petugas perpustakaan, harusnya kan ramah lah, memangnya sebesar apa salah kami,” tuturnya.

Nada serupa juga disampaikankan oleh Gilang yang juga pelajar SMA Negeri 3. Ia tak menyangka hal ini bisa terjadi.

“Padahal hampir tiap hari saya ke perpustakaan, sejauh ini baik-baik saja,” nilainya.

Atas peristiwa itu, YS Nugraha dan pelajar berharap kepada Kepala Perpustakaan dan Arsip Kota Tanjungpinang, Wan Samsi bersikap tegas dan menegur bawahannya itu yang kurang beretika dan seperti preman.

Diwawancara terpisah, Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Tanjungpinang Erlison menyebut oknum A tak dapat informasi bahwa kepala dinas telah memberikan izin.

“Mungkin si A nya tak tahu. Nanti saya tanyakan ke dia. Biasanya kita tidak masalah kalau aula itu dipergunakan untuk anak pelajar asalkan memberitahu terlebih dahulu ke petugas kita,” katanya.

Sementara itu, oknum A dikonfirmasi disalah satu kedai kopi di Tanjungpinang membenarkan apa yang telah terjadi.

“Sebenarnya saya hanya bilang jangan bising ke pelajar karena mau Shalat Maghrib saat itu,” kata A, Jumat.

Ketika ditanya apakah benar mengeluarkan kata kata akan menendang, A tak menampiknya dan meminta maaf. Namun, kata tendang itu ditujukannya bukan untuk pelajar, melainkan ke alat seni.

“Saya ngaku salah dan minta maaf atas kata kata yang telah saya keluarkan. Tapi saya tidak bernada tinggi saat itu,” katanya.

(Iskandar)

Baca juga :

Top