Guru TPQ Pertanyakan Dana Insentif yang Diterima Berkurang

Para guru TPQ antri di ATM Bank Syariah Mandiri di Pantai Kencana Natuna, (27/11).

Para guru TPQ antri di ATM Bank Syariah Mandiri di Pantai Kencana Natuna, (27/11).

Natuna, LintasKepri.com – Sejak dicairkannya dana insentif guru pada 25 November 2015 bertepatan dengan hari HUT PGRI Ke-70 tahun, Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Bank Syariah Mandiri (BSM) di Pantai Kencana Natuna, dipadati ratusan guru mulai dari sekolah umum, swasta dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), Jumat (27/11).

Terlihat antrian panjang  di ATM tersebut tanpa henti-hentinya untuk mengambil uang insentif  yang baru dicairkan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.

Wakil Sekretaris Badan Musyawarah Guru (BMG) Kabupaten Natuna, Herman bersama sejumlah guru TPQ  dijumpai LintasKepri.com menuturkan bahwa  insentif guru yang  dicairkan pada bulan ini yang dirapel oleh pemerintah dinilai bukanlah dirapel. Justru uang insentif diterima berkurang dari tahun sebelumnya.

“Faktanya apa yang terjadi, jangankan dirapel, justru ditahun lalu guru terima sebesar Rp 900 ribu. Sekarang hanya dibayar Rp 700 ribu. Artinya berkurang Rp 200 ribu dari tahun sebelumnya,” kesalnya.

Selain itu, kata Dia, kekurangan uang insentif yang diterima belum diketahui pasti apa penyebabnya.

“Para guru TPQ di Kabupaten Natuna kecewa terhadap Gubernur Provinsi Kepri,” ujar Herman.

Dirinya sangat berharap agar Pemerintahan Provinsi Kepri dapat membela dan  memperhatikan para guru agama yang ada di Kepri ini. Tetapi kenyataannya Gubernur Kepri tidak mampu.

“Kami berbicara seperti itu, karena kami selaku guru TPQ di Kepri tidak memiliki gaji selain mengharapkan bantuan  insentif sekali enam bulan,” Tegas Herman.

Berbeda dengan guru umum, Herman membandingkan bahwasanya guru umum di sekolah mendapatkan gaji setiap bulan. Selain gaji, guru yang mengajar di sekolah juga mendapatkan bantuan  insentif.

“Pemerintah Pemprov seharusnya juga memberikan gaji bulanan untuk guru TPQ seperti guru umum yang mengajar di sekolah,” pintanya.

Herman menambahkan, berbicara persoalan devisit anggaran, masih banyak anggaran lain yang bisa di pending selain anggaran insentif guru. Misalnya proyek fisik yang pengerjaannya hingga tahun 2016.

“Insentif guru ini hanya sekedar untuk makan bagi guru saja. Saya rasa ini yang sangat penting di perhatikan oleh pemerintah daerah dan provinsi,” ujarnya.

Kepala Bidang Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren (Pekapotren) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Natuna, Pagurrahman membenarkan bahwa sebenarnya insentif guru TPQ bukan dirapel. Ia menerangkan Triwulan Pertama insentif guru tak dibayar.

“Tidak ada pembayaran Insentif Triwulan pertama karena defisit.  Tidak dibayarnya uang insentif guru pada bulan Juni semester pertama itu benar akibat terjadinnya devisit anggaran pada tahun 2015 ini,” kata Pagurrahman.

Dirinya mengetahui hal tersebut dari salah seorang pegawai Provinsi Kepri saat ditanya kemarin.

Untuk insentif tahun 2015 ini informasi yang didapat Pagurrahman  memang hanya satu kali ini saja.

Dijelaskan olehnya,  insentif yang diterima dibulan ini oleh para guru yang mengajar disekolah  sudah merupakan semester pertama dan yang terakhir.

Sedangkan untuk insentif para guru TPQ  untuk tahun 2016 bisa saja tidak ada lagi. Adapun bantuan untuk guru TPQ bukan berupa uang tetapi berupa barang.

“Hal tersebut saya dengar berlaku untuk guru TPQ di seluruh Indonesia dan bukan di Kepri saja,” singkat Pagurrahman.

Walaupun begitu, Herman dan para guru TPQ tetap bersyukur atas rezeki yang diberikan oleh Allah SWT melalui insentif dari Pemprov Kepri.

Semua itu, katanya, atas dasar Keputusan Menteri Agama (Kemenag) pusat. Sebab, anggaran insentif  untuk guru TPQ tidak ada. (Tim)

Baca juga :

Top