''

FBK Belum Mempengaruhi Kunjungan Wisman

Foto: Pikiran Rakyat.com

Foto: Pikiran Rakyat.com

Tanjungpinang, LintasKepri.com – Festival Bahari Kepri (FBK) dalam rangka Sail Selat Karimata belum mempengaruhi kunjungan Wisatawan Mancanegara (Wisman) yang berkunjung ke Tanjungpinang selaku Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau.

Baca: Kunjungan Wisman Belum Meningkat, Padahal FBK Sudah Dimulai

Padahal event akbar bertaraf internasional tersebut sudah berjalan sekitar 6 hari sejak dimulai di Tanjungpinang pada tanggal 20 Oktober. Namun berdasarkan pantauan LintasKepri.com di pelabuhan domestik dan pelabuhan internasional, kunjungan wisatawan masih minim baik itu wisatawan lokal maupun luar negeri.

Hal ini juga dibenarkan oleh Kepala Unit Imigrasi Pelabuhan Sri Bintan Pura, Daniel Simanjuntak. Ia mengatakan sejauh ini belum ada peningkatan kunjungan wisman khususnya ke Tanjungpinang.

“Belum ada peningkatan,” kata Daniel, Senin (24/10/16) lalu.

Bahkan tujuan wisata yang ada di Kepri, seperti Bintan kata dia masih terlihat normal. “Adapun wisatawan yang datang berkunjung paling banyak di saat weekend ke Bintan, dan itupun tidak terlalu banyak bahkan cenderung menurun di bulan ini,” tuturnya.

Sedangkan menurut Kepala Pos Pelabuhan Domestik antar pulau Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Sutoyo saat dikonfirmasi Selasa (25/10/16) juga menilai belum ada peningkatan kunjungan wisatawan domestik yang datang ke Tanjungpinang guna melihat festival Sail Selat Karimata.

“Biasa-biasa saja, tak ada peningkatan,” kata Sutoyo.

Dia menjelaskan, orang yang datang berkunjung ke Tanjungpinang dengan menumpang kapal adalah penumpang kategori rutinitas. Artinya orang yang biasa berkunjung ke kota ini dalam rangka pekerjaan dan bukanlah untuk menyaksikan festival Sail Selat Karimata.

“Yang datang ke sini seperti dari Batam, Lingga, Karimun, Anambas, Natuna dan wilayah lainnya di Kepri,” tuturnya.

Terkait hal ini, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri Guntur Sakti justru mengatakan bahwa Festival Bahari Kepri (FBK) sebenarnya dirancang untuk sebuah ambisi dan optimisme yang lebih dari hanya sekedar mendatangkan wisman.

Selain itu juga FBK diniatkan sebagai momentum untuk menjadikan Kepri sebagai gerbang wisata bahari Indonesia.

“Potensi dan daya saing Kepri untuk mencapai ambisi itu sangat besar dan itu juga harus di tebus dengan strategi yang besar,” katanya saat dihubungi Rabu (26/10/2016).

Guntur menilai, FBK dalam momentum Sail Selat Karimata sebenarnya menjadi media penyampai pesan kepada pemerintah pusat dan seluruh elemen masyarakat bahwa Kepri ingin unggul di bidang wisata bahari dan maritim yang juga merupakan visi Pemprov Kepri.

Seluruh konten festival yang disajikan ada yang dikemas untuk mendatangkan turis tapi dengan kategori partisipan seperti peserta yacht, dragon boat race dan diplomatik tour.
Ada juga yang dikemas sebagai upaya pelestarian dan pengembangan nilai seni budaya seperti festival sungai carang, permainan tradisional dan lain-lain yang diharapkan menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara.

Selain itu, kegiatan FBK juga memiliki event yang di kemas dalam bentuk MICE seperti seminar wisata bahari, wonderful kepri expo maupun temu bisnis investasi pariwisata.

“Dan yang paling penting, FBK ini juga dirancang untuk menggairahkan sektor pariwisata Tanjungpinang, menggerakkan partisipasi masyarakat dan memberi dampak ekonomi kepada masyarakat dan pemerintah daerah,” kata dia.

Menurutnya dengan banyaknya atraksi wisata di Tanjungpinang diharapkan dapat menjadi daya dorong kemajuan pariwisata kota Gurindam kedepan. Sehingga misi untuk menjadikan kota yang berjuluk “negeri pantun” ini sebagai salah satu pintu masuk wisman di Kepri agar tercapai.

“Semangatnya kita dedikasikan ke sana dan tentu tetap berharap menjadi daya tarik bagi wisman,” tutupnya.

Ketika FBK diadakan, Pemprov Kepri sangat antusias dan optimis mendatangkan wisatawan mancanegara. Namun, disaat festival Sungai Carang (Dragon Boat Race) diadakan pada 21-23 Oktober yang termasuk dalam kegiatan FBK dan merupakan rangkaian Sail Selat Karimata, justru kebanyakan dari masyarakat awam yang menyaksikan festival itu. (Iskandar)

Baca juga :

Top