'

Dinkes Perkuat Upaya Pencegahan HIV-AIDS

– Melalui Transmisi Seksual

Foto: Net

Foto: Net

Tanjungpinang, LintasKepri.com – Upaya pencegahan HIV-AIDS melalui transmisi seksual dipilih Dinas Kesehatan (Dinkes) dengan mempertimbangkan peta situasi dan kondisi HIV-AIDS di Tanjungpinang saat ini, dimana faktor penularan melalui hubungan seksual tidak aman adalah yang tertinggi.

“Kasus HIV positif yang terjadi di Tanjungpinang selama periode 2009-2015 sebanyak 663 kasus. Kalau dilihat latar belakangnya 347 merupakan pelanggan seks, 174 ibu rumah tangga pasangan pelanggan, 91 wanita pekerja seksual, 16 waria dan 10 LSL,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang, Rustam, Kamis (1/9).

Sedangkan pada periode Januari-Juni 2016 ditemukan 81 kasus HIV positif, 42 merupakan pelanggàn, 24 ibu rumah tangga, 8 WPS, 4 LSL dan 2 waria.

Data tersebut terungkap dalam pertemuan lintas sektor antara Dinas Kesehatan, KPA Kota Tanjungpinang, yayasan Kompak, PKBI, pelaksana layanan IMS dan HIV puskesmas, klinik VCT Kemuning dan Pokja yang berlangsung di ruang rapat Dinkes, Kamis pagi tadi.

“Para pemangku kepentingan bersepakat upaya perubahan perilaku pada kelompok resiko tinggi harus dilakukan,” ungkapnya.

Rustam menjelaskan, kelompok resiko tinggi yang positif HIV diharapkan dapat mengikuti program terapi dini (strategic use of ART/SUFA) secara berkelanjutan tanpa berhenti walaupun tidak sakit.

Upaya ini selain dapat mempertahankan kondisi kesehatan yang bersangkutan juga dapat menurunkan jumlah virus dalam tubuh yang pada gilirannya akan menurunkan potensi menularkan kepada pihak lain.

Rustam, Kadis Kesehatan Kota Tanjungpinang

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang, Rustam.

“Tidak melakukan hubungan seks yang beresiko tentunya lebih dianjurkan. Setia hanya dengan pasangannya yang sah adalah langkah yang terbaik,” ujarnya.

Rustam mengimbau, bagi yang terkena penyakit infeksi menular seksual hendaklah segera berobat dan melakukan perubahan perilaku. Pengobatan harus dilakukan terhadap pasangannya sekaligus.

“Karena kalau tidak akan terjadi fenomena bola pingpong. Diobati di sini ketularan di sana. Diobati di sana, ketularan di sini. Demikian terus berulang,” tutupnya. (dar)

Baca juga :

Top