''

Dikabarkan Akan Gagal, Masjid Tertua Ke-2 di Tanjungpinang ini Laksanakan Kurban

– Polemik antara yayasan dengan jamaah Masjid Al-Hidayah

Hewan Kurban Masjid Al-Hidayah Ketika akan di sembelih

Hewan Kurban Masjid Al-Hidayah Ketika akan di sembelih

Tanjungpinang, LintasKepri.com – Setelah dikabarkan akan gagal melaksanakan ibadah penyembelihan hewan kurban akibat terjadinya polemik antara yayasan dengan jamaah, akhirnya Masjid Al-Hidayah di Jalan Brigjen Katamso yang merupakan masjid tertua nomor 2 di Kota Tanjungpinang melaksanakan pemotongan hewan kurban sebagai bentuk ibadah hari raya haji (Idul Adha) sebanyak 2 ekor sapi yang dibagikan untuk wilayah RT 04 dan RT 05 dari 127 kupon kurban.

“Katanya ada oknum yayasan ingin berkuasa di masjid ini. Inikan masjid jamaah. Jadi, kita ingin jangan karena tidak ada panitia kurban dari yayasan, pemotongan hewan kurban gagal. Karena selama ini tidak pernah terjadi. Apalagi masjid ini nomor 2 tertua di Kota Tanjungpinang,” tegas Riswandi, S.Ag yang merupakan ustadz sekaligus jamaah di Masjid Al-Hidayah saat dijumpai LintasKepri, Senin (12/9).

Dirinya yang dipercaya jamaah selaku Ketua Panitia Pelaksanaan Kurban pada hari ini menuturkan, sebelumnya telah terdaftar 4 ekor sapi yang siap untuk dibeli dari hasil sumbangan peserta kurban, ditambah 3 peserta yang rencananya akan dicarikan tambahan untuk mendapatkan 1 ekor lembu.

Seiring berjalannya waktu, yayasan mengambil sikap melakukan pembatalan secara sepihak tanpa bermusyawarah dengan jamaah terlebih dahulu dengan cara mengembalikan uang peserta kurban yang dipastikan berkurban di masjid ini.

Warga dan jamaah masjid Al-Hidayah terlihat saling bantu membantu memotong daging kurban

Warga dan jamaah masjid Al-Hidayah terlihat saling bantu membantu memotong daging kurban

Jika tidak digagalkan oleh pihak yayasan bisa mencapai 6 ekor sapi termasuk didalamnya 1 ekor sapi bantuan Pemko Tanjungpinang.

“Dikembalikan uang orang tersebut untuk pembelian 4 ekor sapi ditambah 3 ekor lembu itu. Alasan pengembalian yang dilakukan oleh pihak yayasan karena tidak sanggup melaksanakan kurban dan juga yang katanya adanya tekanan-tekanan. Sementara dari pihak jamaah tidak ada tekanan. Kami (Jamaah) hanya meminta membentuk panitia kurban saja,” papar Riswandi.

Selain itu juga, kata dia, ada sisa uang 2 orang peserta kurban dari daerah Pancur (Dabo Singkep) Kabupaten Lingga yang berkurban di masjid ini yang belum diambil.

Dengan kesepakatan melalui sebuah musyawarah bersama RT, RW, pihak Lurah setempat, anggota Intel Bukit Bestari, dan jamaah yang hadir, disampaikanlah polemik seperti ini.

Melalui perundingan musyawarah tersebut, ada pihak yang menambah dana untuk pembelian hewan kurban. Maka, dapatlah membeli 1 ekor sapi berkat kerjasama inisiatif jamaah.

“Kemudian kita menghubungi Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah melalui seluler, dapatlah bantuan dari Pemko Tanjungpinang yakni dari SKPD BP3AKB,” ungkapnya.

Warga dan jamaah masjid Al-Hidayah terlihat saling bantu membantu memotong daging kurban

Warga dan jamaah masjid Al-Hidayah terlihat saling bantu membantu memotong daging kurban

Riswandi dan jamaah lainnya menyayangkan peserta yang telah ikut berkurban di Masjid Al-Hidayah ini bahwasanya telah terlanjur memindahkan kurbannya ke masjid tetangga yang dibatalkan sepihak oleh yayasan tanpa bermusyawarah terlebih dahulu.

“Artinya pembatalan sepihak tanpa diketahui oleh jamaah, warga setempat, maupun RT dan RW,” tegasnya.

Oknum yayasan yang diduga membatalkan kurban yang hampir saja tidak ada di masjid ini sebagaimana dimaksud oleh dirinya dan jamaah yakni H. Darul Herak.

“Katanya dia ingin berkuasa. Ini masjid jamaah. Kita ingin jangan karena dia tidak ada panitia kurban. Sementara jamaah siap membentuk panitia kurban,” ujarnya.

Bahkan, sambung Riswandi, hampir juga tidak adanya shalat Idul Adha di masjid ini. Karena ada orang yang mengaku sebagai ketua yayasan menghubungi pihak Kanwil Kemenag Kepri dengan menyebut mendatangkan penceramah dari Kota Batam.

“Saya konfirmasi dengan Kemenag Kepri bahwa didalam buku panduan tidak ada khatib yang akan berceramah di Masjid Al-Hidayah. Lalu saya tanya dengan bu Habibah yang mengurus surat dan khatib. Bu Habibah jawab ada orang menelfon saya dan mengaku sebagai ketua yayasan mengatakan khatib akan dibawa dari Batam. Lalu ibu Habibah bertanya kepada orang yang menelfon itu dengan meminta nama dan nomor ponsel. Lalu orang itu tak mau kasih dan orang itu pakai private number,” terang Riswandi menirukan percakapannya dengan pihak Kemenag Kepri saat itu.

Mirisnya lagi, ketika para jamaah melakukan gotong royong persiapan pelaksanaan jelang kurban, pada Minggu (11/9), dan hingga hari ini pun pihak yayasan tak kunjung tiba.

“Shalat Idul Adha terlaksana, akhirnya kurban pun selesai. Kalau menunggu pihak yayasan mungkin tidak lebaran disini,” tuturnya.

Masalah pengurusan masjid saat ini yang menurut jamaah belum jelas, akan dilakukan mediasi antara yayasan dengan jamaah.

Warga dan jamaah masjid Al-Hidayah terlihat saling bantu membantu memotong daging kurban

Warga dan jamaah masjid Al-Hidayah terlihat saling bantu membantu memotong daging kurban

“Kita melibatkan 7 orang jamaah termasuk RT,RW, perwakilan ibu-ibu guna menanyakan apa maunya pihak yayasan di kantor urusan agama. Kita minta pengurus masjid segera dibentuk dengan sejelas-jelasnya. Jika pihak yayasan ingin mengelola Taman Kanak-Kanak (TK) silahkan. Jamaah hanya ingin mengelola masjid dengan baik dan benar,” tegas Riswandi.

Dirinya menjelaskan sampai saat ini jamaah belum tau pasti siapa saja yang masuk didalam kepengurusan yayasan.

“Kemarin ada H. Darul Herak, H. Mukmin (Domisili Tanjung Unggat) dan ibu Chairani. Informasi yang didapat semalam dari ibu Chairani sisa semua uang kas masjid sudah diserahkan ke H. Darul Herak termasuk pembukuannya. Dan hingga saat ini H. Darul Herak belum menyerahkan kepada jamaah. Dia pun tidak datang sampai sekarang,” paparnya.

Ia dan jamaah meminta kepada pihak terkait untuk melakukan audit terhadap masjid ini.

“Insya Allah kita minta di audit,” katanya.

Ditempat yang sama, Ketua RT 04 RW 01, Mesgiat Wahono selaku wilayahnya mengatakan, hal ini merupakan suatu gambaran yang kurang baik. Ditambah lagi hampir gagalnya pelaksanaan ibadah shalat Idul Adha maupun kurban hewan.

“Bebannya tentunya kepada masyarakat,” nilainya.

Kedepannya ia bersama warga dan pihak terkait memperbaiki administrasi didalam masjid hingga kepengurusan yang jelas.

Sementara itu, hingga berita ini dilansir, LintasKepri belum berhasil menjumpai H. Darul Herak yang disebut-sebut jamaah. (Iskandar)

Baca juga :

Top